Senin, 09 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN


SIAPAKAH FIRMAN ALLAH YANG DITURUNKAN
KE DUNIA ITU ,  YESUS ATAU AL QURAN ? (4)


MELURUS-LURUSKAN APA YANG TELAH LURUS

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :

Eja Kalima  dengan menunjuk ayat Qs. 4 : 171 , kemudian berkata :

Tafsiran berjalan tidak mulus sehingga kita tidak usah heran menjumpai sang penafsir harus terus memberi catatan tambahan di bawah tanda kurung bagi penterjemah Quran demi             “ melurus-luruskan “ apa yang aslinya telah lurus apa yang aslinya telah lurus dalam ayat berikut :
Sesungguhnya Al Masih , Isa putra Maryam itu adalah Utusan Allah dan Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan Roh daripada-Nya ……. ( Surat 4 : 171 ).
Bukankah tampak di sini bahwa UTUSAN ALLAH ( Rasulullah) dan KALIMAT-NYA ( Kalimatullah ) dan ROH DARI PADANYA ( Rohullah ) adalah semua perujukan kepada SUBJEK yang bernama AL MASIH ?

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :

Maksud Eja Kalima dengan pernyataannya ini adalah sehubungan dengan penjelasan yang diberikan dalam tanda kurung untuk istilah ” KALIMAT-NYA ” dan ” ROH-NYA ” sebagaimana yang terdapat dalam terjemahan ayat Qs. 4 : 171 sebagai berikut :

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan ( yang diciptakan dengan) kalimat-Nya  yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ( dengan tiupan ) roh dari-Nya . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : " ( Tuhan itu ) tiga ", berhentilah ( dari ucapan itu ). ( Itu ) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Dalam  terjemahan ayat  Qs. 4 : 171, kata ” KALIMATUHU ” (terjemahan harfiahnya: Kalimat-Nya ”) diberikan keterangan dalam tanda kurung yaitu  ” (yang diciptakan dengan ) ” sehingga terjemahan untuk kata ” KALIMATUHU  ” menjadi : ” ( yang diciptakan dengan ) kalimat-Nya  ”. Begitu pula dengan kata ” RUW-HUM-MINHU ” yang terjemahan harfiahnya : ” ROH DARI-NYA ” tetapi diberikan keterangan dalam tanda kurung , yaitu : ” ( dengan tiupan ) ” sehingga terjemahan untuk kata ” RUW-HUM-MINHU ” menjadi ” ( dengan tiupan ) roh dari- Nya ”. Itulah yang dimaksud oleh Eja Kalima.  Tetapi menurut Eja Kalima , cara penjelasan dengan memberi catatan tambahan di bawah tanda kurung oleh penterjemah Quran adalah ” .....demi “ melurus-luruskan “ apa yang aslinya telah lurus.....” . Dari pernyataan Eja Kalima ini , ditangkap maksudnya yaitu jika tidak diberi keterangan dalam tanda kurung itu maka menjadilah terjemahan ayat Qs. 4 : 171 sebagai berikut :

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya  yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : " ( Tuhan itu ) tiga ", berhentilah ( dari ucapan itu ). ( Itu ) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Dan ditangkap maksud Eja Kalima , yaitu kalimat  Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya  yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya   ” tanpa tambahan ”       (  yang diciptakan dengan  ) ” pada ” kalimat-Nya  ” dan  ” ( dengan tiupan ) ” pada ” roh dari-Nya ” itulah terjemahan yang menurut Eja Kalima : ” apa yang aslinya telah lurus ”. Dan dalam terjemahan    apa yang aslinya telah lurus ” maka ayat Qs. 4 : 171 akan sama seperti yang dinyatakan Alkitab/Bibel ayat Yahya 1 : 1 . Jelas ini merupakan satu kengawuran yang dihasilkan penerapan dogma Kristen terhadap ayat Al Qur’an.  Eja Kalima  rupanya tidak mengetahui bagaimana pengertian  kata ” KALIMAT ” dan ” RUH ” dalam Al Qur’an . Dan juga tidak mengetahui alasan , mengapa penterjemah menambahkan kata dalam tanda kurung itu sebagai penjelasan .
Apakah yang dilakukan penterjemah Al Qur’an itu salah ?. Tidak ! Justru yang dilakukan penterjemah Al Qur’an dengan memberikan penjelasan melalui keterangan dalam tanda kurung tersebut , itulah yang sangat benar karena sesuai dengan ajaran akidah Islam dan sesuai pula dengan ayat Al Qur’an lainnya. Jika tidak demikian , kita akan mendapatkan bentuk kalimat terjemahan yang kabur . Ambil contoh misalnya kata dalam tanda kurung ” (Tuhan itu) ” - (dari ucapan itu ) ” dan ” ( itu ) ” di mana kata-kata ini merupakan penjelasan untuk kalimat atau kata tertentu: ”TIGA ”- ” BERHENTILAH ”. Jika ketiga kata penjelasan dalam tanda kurung tersebut ditiadakan maka secara letterlijk kalimat terjemahan bahasa Indonesia-nya adalah : ” ..... janganlah kamu mengatakan : " tiga ", Berhentilah. Lebih baik bagimu ”. Apakah terjemahan yang demikian ini yang dimaksud Eja Kalima sebagai ” yang aslinya telah  lurus ” itu  sebagai terjemahan dari kalimat teks dalam bahasa Arab Al Qur’an-nya ? Harusnya demikian karena Eja Kalima menggugat adanya kata-kata dalam tanda kurung yang diberikan penterjemah bahasa Indonesia .
Jika itulah maknanya menurut Eja Kalima sebagai yang aslinya telah lurus ” itu sehingga penterjemah Al Qur’an tidak perlu lagi ” menambahi ” dengan kata tanda kurung  maka sejumlah pertanyaan perlu diajukan kepadanya :

-      Apa maksud kalimat terjemahan : ”... janganlah kamu mengatakan : " tiga ", Berhentilah. Lebih baik bagimu ” dari ayat Qs. 4 : 171 ini ?

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN

MASALAH FIRMAN ALLAH DAN ROH KUDUS
  
SIAPAKAH FIRMAN ALLAH YANG DITURUNKAN
KE DUNIA ITU ,  YESUS ATAU AL QURAN ? (3)

SUBYEK  TELAH MENJADI  OBYEK BAGI  “ KALIMAT ALLAH “

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :

Eja Kalima memberi pernyataan  :

Para penafsir Quran yang memaknakan SUBYEK menjadi OBYEK bagi  “ KALIMAT ALLAH “ (sebagai akibat dari KALIMAT ALLAH yang berfirman “JADILAH “) akan menemui kesulitan oleh kenyataan bahwa KALIMAT ALLAH adalah juga AL QURAN yang diturunkan ke dunia . Apakah AL QURAN dapat sama  dengan  ISA : akibat dari kalimat “ JADILAH “?

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :

Sekali lagi, pemahaman atas ayat Qs. 4 : 171 bukan hasil penafsiran kaum  Muslimin melainkan karena memang demikianlah yang ditegaskan oleh ayat Qs.  4 : 171 . Perlu dijelaskan di sini , TIDAK ADA KESULITAN YANG AKAN DITEMUI OLEH PARA PENAFSIR AL QUR’AN SEHUBUNGAN DENGAN DIKATAKAN AL QUR’AN ADALAH KALIMAH ALLAH KETIKA DI SISI LAIN DIKATAKAN ISA ALMASIH ADALAH KALIMAH ALLAH  ( dalam pengertian sebagai produk dari kalimat ” Kun ” ) SEHINGGA TIDAK PERLU DISIMPULKAN : AL QUR’AN DAPAT SAMA DENGAN ISA. Menyatakan adanya kesulitan seperti yang dikatakan Eja Kalima sesungguhnya tidak lebih dari khayalan Eja Kalima sendiri. Dalam Al Qur’an kata ” KALIMAH ” mempunyai banyak makna . Oleh karena itu pernyataan Eja Kalima : ” Para penafsir Quran yang memaknakan SUBYEK menjadi OBYEK bagi  “ KALIMAT ALLAH “ ( sebagai akibat dari KALIMAT ALLAH yang ber-firman “JADILAH “ ) akan menemui kesulitan oleh kenyataan bahwa KALIMAT ALLAH adalah juga AL QURAN yang diturunkan ke dunia. Apakah AL QURAN dapat sama  dengan ISA : akibat dari kalimat “ JADILAH “ ? ” sebenarnya muncul KARENA EJA KALIMA TIDAK MEMAHAMI ARTI ’ KALIMAT ” DALAM AL QUR’AN. Untuk itu, berikut ini disajikan beberapa pengertian ” KALIMAH ” menurut Al Qur’an untuk diketahui oleh Eja Kalima dan penganut Kristen pada umumnya sebelum menyajikan pernyataannya tersebut .
Dalam ayat An Nisaa’ 171 , dikatakan  Isa Al Masih as adalah “ Kalimatuhu “ ( Kalimat-Nya ) atau dalam ayat Ali ‘Imran 45 : “ Kalimati (n)mminhu “ ( Kalimat dari-Nya ). Menjadi pertanyaan pula, apa yang dimaksud dengan kata “ Kalimat “ pada kata-kata tersebut ? Menjawab pertanyaan ini, sangatlah tidak tepat bagi penganut Kristen dengan menunjuk Bibel, ayat Yahya 1 : 1 yang Hellenistic sebagai penjelasan , melainkan harus dikembalikan kepada ayat-ayat Al Qur’an itu sendiri. Pemahaman atas kata “ Kalimat “ bergantung pada penggunaan kata tersebut dalam ayat-ayat Al Qur’an , sedangkan merujukkannya kepada ayat Yahya 1 : 1 merupakan langkah yang konyol sebab ayat Al Qur’an bukanlah ayat Bibel ! Penganut Kristen tidak percaya dengan ayat-ayat Al Qur’an sebagai wahyu Allah. Lalu bagaimana mereka menggunakan ayat Al Qur’an untuk membenarkan kepercayaan Kristen walaupun dengan cara menerapkan ayat Bibel atas ayat-ayat Al Qur’an tersebut ?
Berikut ini disajikan makna “ Kalimat “ pada berbagai ayat Al Qur’an. Terjemahan yang disajikan diambil dari terjemahan tafsir  “ Al Qur’an Dan Terjemahnya “ Departemen Agama RI , dengan sedikit perubahan yaitu kata “ kalimat “ tetap dipertahankan dalam terjemahan yang disajikan .

1.      Kalimat “ adalah Do’a Taubat .

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya , maka Allah menerima taubatnya . Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (  Al Baqarah  37  )

Dalam ayat ini dikatakan : “ Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya  lalu  lanjutannya dikatakan : “ maka Allah menerima taubatnya “ . Apa yang disimpulkan dari kedua pernyataan ini ? Rupanya Adam menerima ajaran dari Allah bagaimana do’a taubat yang harus dipanjatkan untuk kesalahan yang dilakukan ,  kemudian dilaksanakan oleh Adam dan Allah SWT menerima taubatnya . Dan berkaitan dengan taubatnya Adam dan Hawa ini , diungkapkan dalam  ayat Al A’raaf 23  :

       Keduanya berkata : “ Ya Tuhan kami , kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami , niscaya pastilah kami termasuk orang yang merugi “

Satu bentuk “ ratapan “seorang hamba kepada Al Khaliq lantaran dosa yang dilakukan . Dan itulah yang dilakukan oleh Adam dan Hawa . Allah SWT meng-ampuni dosanya . Hal ini ditegaskan dalam surah Thaa-haa 122 :

       Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Dengan demikian pengertian dari “ Kalimat “ dalam ayat Al Baqarah 37 : “ Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya  adalah  DO’A TAUBAT “.

2.      Kalimat “ adalah Kalimat Tauhid : Laa ilaaha illallah

Katakan , Hai Ahli Kitab , marilah ( berpegang ) kepada kalimat yang tidak ada peselisihan
antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak ( pula ) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah . Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka : “ Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri ( kepada Allah ) “ . ( Ali ‘Imran 64  )

Pernyataan  kalimatin sawaa-i(n)mm baynanaa wa baynakum “ (  kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu ), yang kemudian dilanjuti dengan penjelasan risalah tauhid  yang menjadi dasar Islam : “ allaa na’buda illallaaha wa laa nusyrika bihi “ ( tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun ) dan “ wala yattakhiza ba’dunaa ba’dan arbaa-bam mindunillahi “ ( tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah  ) menunjukkan bahwa kata “ Kalimat “ yang disebut dalam ayat ini tidak lain adalah kalimat Tauhid : LAA ILAAHA ILLALLAH , yang implementasi akidahnya  adalah  hanya  menyembah  Allah  SWT yang Esa  secara mutlak baik substansi-Nya maupun sifat-Nya , bukan Esa dalam konsep Trinitas.
Ungkapan “ kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu “ tergambar dari penegasan tauhid dalam surah Al Ikhlas: “ Katakanlah Allah itu Esa  yang sama dengan ajaran Musa yang masih tersisa dalam Bibel : “ Syema Yesrael , Yahwe Elohonu Yahwe Ehad “ ( Dengarlah hai Israel , Tuhan Allahmu adalah Tuhan yang Esa ) [1] ). Baca pula dibaca ayat Az Zukhruf 28 yang memberikan makna “ kalimat “ sebagai kalimat tauhid  :

Dan ( Ibrahim ) menjadikan kalimat itu ( kalimat yang ) kekal pada keturunannya supaya mereka kembali ( kepada kalimat  itu )
 
Pemaknaan “ Kalimat “ sebagai kalimat tauhid : Laa ilaaha illallah pada ayat Az Zukhruf 28 ini , tidak salah karena pada ayat sebelumnya yang mendahului yaitu ayat Az Zukhruf 27 ditegaskan : “ … Tetapi ( aku menyembah ) Tuhan yang menjadikanku , karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku “. Ungkapan “ Tuhan yang menjadikanku  “ dan “sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku “ merupakan statemen dan kesaksian ketauhidan . Dan Ibrahim mengajarkan ketauhidan kepada anak-anaknya dan selanjutnya turun temurun untuk tetap dipertahankan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan hal ini, misalnya Nabi Yakub as. betapa sebelum ajal datang, mengumpulkan anak-anaknya dan meminta mempertahankan ketauhidan kepada Allah SWT. 
Makna “ Kalimat “ sebagai kalimat tauhid juga dapat dilihat pada ayat Al Fath 26 :

       Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan ( yaitu ) kesombongan jahiliyah , lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Rasul-Nya dan kepada orang-orang Mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka : kalimat taqwa dan adalah berhak dengannya ( kalimat taqwa itu ) dan patut memilikinya . Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

Dalam ayat ini disebutkan :  Kalimat Taqwa “ yang ditafsirkan dengan “ kalimat tauhid “ dan “ memurnikan ketaatan kepada Allah SWT ” ( Al Qur’an Dan Terjemahnya , Dep. Agama RI )

3.      Kalimat “ adalah Janji-Janji Allah .

Dan sesungguhnya telah didustakan ( pula ) rasul-rasul sebelum kamu , akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan ( yang dilaku kan ) terhadap mereka sampai datang  pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.  ( Al An-aam  34  )

Ayat ini berbicara tentang keadaan rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw yang mengalami pendustaan dan penganiayaan kaumnya  sehingga datang pertolongan Allah kepada rasul-rasul tersebut . Kemudian berlanjut pada pernyataan : “Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah  “.  Pernyataan ini terkait dengan  sampai datang pertolongan Kami kepada mereka “. Dalam hubungan ini , maka makna “ kalimat “ dalam ayat ini adalah “ janji-janji Allah “ atau boleh juga bermakna “ ketetapan Allah “ untuk memberikan pertolongan kepada para rasul Allah ketika menghadapi tantangan, pendustaan, dan pengania-yaan kaumnya pada saat menyampaikan risalah Tuhannya. Oleh karena itu, terjemahan yang diberikan dalam “ Al Qur’an dan Terjemahnya “ Dep.Agama RI , ditulis : “  Tak ada seorang-pun yang dapat merobah kalimat-kalimat ( janji-janji ) Allah  “. Makna “ kalimat Allah “ sebagai     janji-janji Allah “ juga ada dalam ayat Yunus 64: 

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN


MASALAH FIRMAN ALLAH DAN ROH KUDUS
  
SIAPAKAH FIRMAN ALLAH YANG DITURUNKAN
KE DUNIA ITU ,  YESUS ATAU AL QURAN ? (1)
 
FIRMAN TURUN KE DUNIA MENJADI MANUSIA

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :

Eja Kalima  memberi pernyataan  :

Injil Yohanes memulai ayatnya dengan menegaskan bahwa Firman Allah itu ( sejak semula ) adalah bersama –sama dengan Allah dan adalah Allah. Sang FIRMAN YANG ILAHI INI TURUN KE DUNIA MENJADI MANUSIA yang dinamai Yesus ( Yoh. 1 : 1,14 ). Quran pun dalam Surat 4 : 171 terkesan mengandung kemiripan seperti ayat di atas, namun segera ditafsirkan bahwa “ KALIMAT ALLAH “ hanyalah sebatas “ KATA-KATA “ yang keluar dari mulut  Allah dan Isa adalah AKIBAT dari kalimat “ JADILAH “ ( kun ) MAKA JADILAH DIA ISA .

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN   :

Pembicaraan mengenai ayat Yahya 1 : 1,14  telah dikemukakan dalam seri tulisan bagian ke 1   ( lihat bagian pertama seri tulisan dengan judul : ” MENJAWAB APOLOGI PENGANUT KRISTEN  TENTANG  KONSEP TRINITAS ” ).  Oleh karena itu masalah ayat Yahya 1 : 1, 14  tidak lagi dibahas pada bagian 2 seri tulisan  ini. Satu hal yang menjadi keprihatinan yaitu Eja Kalima mengajukan ayat Yahya 1 : 1,14  kepada ummat  Islam yang diundang hadir dalam ” Jamuan ” yang diadakannya sebagai dalil bagi YESUS selaku FIRMAN ALLAH maka dalam konteks dialog agama yang diadakannya adalah sangat tidak etis, sebab Bibel/ Alkitab bukan kita suci agama Islam, dan itu adalah urusan penganut Kristen.
Namun akan dibahas  pernyataan Eja Kalima yang melihat kemiripan antara ayat Yahya 1 : 1 dengan ayat Qs. 4: 17 yaitu : ” Quran pun dalam Surat 4 : 17 terkesan mengandung kemiripan seperti ayat di atas, namun segera ditafsirkan bahwa “ KALIMAT ALLAH “ hanyalah sebatas “ KATA-KATA “ yang keluar dari mulut  Allah dan Isa adalah AKIBAT dari kalimat  “ JADILAH “ ( kun ) MAKA JADILAH DIA ISA  ”. Sejauh mana kebenaran pernyataan Eja Kalima ini , untuk jelasnya , berikut dikutipkan terjemahan ayat Qs. 4 : 171  :

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu , dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan ( yang diciptakan dengan ) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ( dengan tiupan ) roh dari-Nya . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan :  " ( Tuhan itu ) tiga ", berhentilah ( dari ucapan itu ). ( Itu ) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

Melengkapi ayat Qs. 4 : 171 , berikut ditampilkan terjemahan dua ayat lain yang juga berbicara tentang kejadian dan kelahiran Isa Al Masih as (Yesus Kristus ) yaitu Qs.3 : 59  dan Qs. 3 : 45  :

Sesungguhnya misal ( penciptaan ) Isa di sisi Allah, adalah seperti ( penciptaan ) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah , kemudian Allah berfirman kepadanya : " Jadilah " ( seorang manusia ), maka jadilah dia. (  Qs. 3 : 59  )
( Ingatlah ), ketika Malaikat berkata : " Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu ( dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan ) dengan kalimat ( yang datang ) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa  putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan ( kepada Allah ), ( Qs. 3 : 45 )

Ayat-ayat ini sangat jelas dan tidak membutuhkan penafsiran lagi bahwa Isa Al Masih diciptakan dengan kalimat yang diucapkan Allah yaitu ” KUN ” maka ” JADILAH ” Isa dalam rahim Maryam. Jadi menurut Al Qur’an , Yesus itu adalah produk dari kata ” KUN” bukan ”KUN ” itu sendiri. Sedangkan ayat Alkitab/Bibel Yahya 1 : 1, mengajarkan : ” ... Pada awal pertama adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itulah juga Allah ” dan Yahya 1 : 14 mengajarkan pula : ”  Firman itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara    kita .....”. Dipahami kedua ayat Alkitab/Bibel ini memberi pengajaran dogma Kristen bahwa Yesus ( - selaku Firman yang menjadi daging - ) adalah kalimat  ” KUN ”. Jelas ini tidak mirip bahkan bertentangan sama sekali dengan penegasan ayat Qs. 4 : 171 ;  Qs.  3 : 59  dan Qs.  3 : 45 . Eja Kalima rupanya asal ucap .
Penciptaan Isa Al Masih ini sama dengan penciptaan Adam ( Qs. 3 : 59 ) dan juga penciptaan semua makhluk  sebagaimana yang ditegaskan dalam Qs. 16 : 40 : Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu  apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya : " kun            ( jadilah ) ", maka jadilah ia  ”. Ini bukan penafsiran tetapi memang demikian pengertian yang dinyatakan oleh ayat-ayat Al Qur’an tersebut.  Oleh karena itu , betapa kelirunya si Kristen ketika berkata : ” ..... namun segera ditafsirkan bahwa “ KALIMAT ALLAH “ hanyalah sebatas “ KATA-KATA “ yang keluar dari mulut  Allah dan Isa adalah AKIBAT dari kalimat   “ JADILAH “   ( kun ) MAKA JADILAH DIA ISA ”. Tidak ada istilah ” segera ditafsirkan ” karena ayat-ayat Al Qur’an tersebut memang mengatakan demikian, bukan ditafsirkan yaitu ISA DICIPTAKAN DENGAN KALIMAH-NYA seperti halnya penciptaan/kejadian makhluk lainnya, BUKAN KALIMAH-NYA  YANG BERINKARNASI MENJADI MANUSIA YESUS.
Bagi Ummat Islam , tidak ada kesan sama sekali bahwa ayat Qs. 4 : 171 ini mirip dengan ayat Yahya 1 : 1 , 14  karena ” inti berita ” yang disampaikan keduanya sangat berbeda bahkan bertentangan . Ayat Yahya 1 : 1 menegaskan ” FIRMAN ” itu ” ALLAH ” dan pesan dengan pengertian seperti itu tidak ada dalam ayat Qs . 4 : 171 . Begitu pula ayat Yahya 1 : 14 yang menyatakan terjadinya INKARNASI ” FIRMAN ” menjadi  ” MANUSIA ”. Tidak ada pesan dengan pengertian seperti itu dalam ayat Qs. 4 : 171 dan ayat-ayat lainnya. Hanya Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya saja yang mengatakan adanya kesan kemiripan antara ayat Qs. 4 : 171 dengan Yahya 1 : 1,14 lantaran kebodohannya. Tentu kesan seperti itu dipengaruhi oleh dogma Kristen Kristen yang dianut dengan membaca ayat Qs. 4 : 171 menurut kacamata dogma Kristen . Jadi Eja Kalima telah ” menafsir ” ayat Qs. 4 : 171 dengan ayat Bibel/Alkitab ayat Yahya 1 : 1 , 14  . Ini perbuatan yang sangat keterlaluan dan menunjukkan kejahilan .


 SIAPAKAH FIRMAN ALLAH YANG DITURUNKAN
KE DUNIA ITU ,  YESUS ATAU AL QURAN ? (2)

SANG KALIMAT –  SEBAB HAKIKI DAN PENYEBAB TUNGGAL 
DARI SEGALA YANG ADA .

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :
Eja Kalima memberi pernyataan  :

Muslim tidak siap melihat Isa dari sisi yang  lain  yaitu sebagai SANG KALIMAT –  “ AKULAH KALIMAT “ yang justru merupakan SEBAB HAKIKI dan PENYEBAB TUNGGAL dari segala yang ada ( Yoh. 1 : 3 , dll ) . Dialah yang merupakan PEMBICARA ILAHI dan PENYATA DIRI ALLAH untuk manusia ( Ibr. 1 : 1 , Yoh 1 : 18 ) agar Allah yang tidak bisa dipahami menjadi dapat dipahami oleh manusia .

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN  :

Sikap  keberagamaan  kaum  Muslimin  didasarkan  pada  Al  Qur’an  dan  Hadist/Sunnah. Jadi bukan  soal  siap  atau  tidak  siap . Karena  ini menyangkut akidah dasar Islam , tidak mungkin kaum Muslimin mau melihat Isa dari sisi lain dengan mendasarkan pada dogma Kristen padahal Al Qur’an sangat menegaskan bahwa Isa itu bukan Tuhan , bukan apanya Allah , melainkan makhluk yang diciptakan Allah, sama seperti penciptaan makhluk lain .  Kalau Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya berkeyakinan bahwa Yesus  : ”  sebagai SANG KALIMAT –  “ AKULAH KALIMAT “ yang justru merupakan SEBAB HAKIKI dan PENYEBAB TUNGGAL dari segala yang ada ( oh. 1 : 3, dll ) ” itu urusan Eja Kalima . Tapi jangan meminta ummat Islam untuk berpendapat dan berkeyakinan seperti itu karena Al Qur’an sudah jelas mengatakan – bukan tafsirnya kaum Muslimin – bahwa ISA AL MASIH DICIPTAKAN DARI KALIMAT ” KUN ” , yang berarti ISA AL MASIH ADALAH PRODUK DARI KALIMAT ” KUN ” , sama seperti kejadian Adam , manusia pada umumnya dan makhluk lainnya , BUKAN KALIMAT YANG BERINKARNASI MENJADI ISA AL MASIH .
Begitu pula dengan pernyataan keyakinan tentang Yesus yang disajikan Eja Kalima : ” Dialah yang merupakan PEMBICARA ILAHI dan PENYATA DIRI ALLAH untuk manusia ( Ibr. 1 : 1 , Yoh 1 : 18 ) agar Allah yang tidak bisa dipahami menjadi dapat dipahami oleh manusia ”, itu urusan Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya sesuai dengan dogma Kristen yang dianutnya. Tapi jangan meminta kesiapan kaum Muslimin untuk memahami seperti itu, karena sudah jelas dalam keyakinan Islam bahwa Allah dipahami melalui segala sifat-Nya dengan memperhatikan dan merenungkan akan segala ke-MAHA KUASA-an, ke-MAHA-BESAR-an dan ke-MAHA-an lainnya dari Allah melalui hasil ciptaan-Nya. Bukan dipahami seperti hendak memahami sebuah benda dengan cara membedah dan memilah-milah Allah. Ummat Islam tidak membutuhkan keyakinan YANG TIDAK MASUK AKAL atau KEYAKINAN YANG TIDAK WARAS seperti itu yaitu agar Allah bisa dipahami , Allah harus menjadi manusia terlebih dahulu. Keyakinan yang demikian tidak lebih baik dengan kepercayaan kafir kuno tentang dewa-dewa .
Kemudian berbicara mengenai istilah ” PEMBICARA ILAHI ” atau ” PENYATA DIRI ALLAH ” bagi Yesus sangat tergantung bagaimana memaknai istilah- istilah tersebut. Dalam Islam , kedua istilah itu bisa dikenakan kepada setiap RASUL ALLAH , seperti Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa Al Masih as ( Yesus Kristus ) yang membawa perintah dan risalah dari Allah tentang KEESAAN ALLAH  dan  BERTAUHID KEPADA ALLAH . Dan Islam tidak pernah akan memahami jika kedua istilah tersebut hendak dikenakan kepada MANUSIA sebagai ALLAH itu sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia . Ummat Islam ( kaum Muslimin ) tidak akan menempatkan kepalanya dalam pemahaman bodoh seperti itu .