Kamis, 05 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN

ALLAH AL QUR'AN DAN " ALLAH " ALKITAB  (1)
TUHAN ALKITAB SAMA DENGAN ALLAH AL QUR’AN ?


APOLOGI   I   :  ANGGAPAN BAHWA TUHAN ALKITAB SAMA DENGAN ALLAH AL QUR’AN

Eja Kalima memberi pernyataan berikut :

Banyak orang yang beranggapan bahwa TUHAN DALAM ALKITAB dan TUHAN DALAM AL QUR’AN adalah sama dan satu , hanya namanya atau sebutannya saja yang berbeda . Karena sama-sama menyembah “ Allah “ satu-satunya Tuhan Yang Esa , maka mereka yakin bahwa Kristen dan Islam memang menyembah Allah yang sama . Namun bahwa monoteisme itu SATU ALLAH , tidak berarti bahwa identitas dari Tuhan Yang Esa itu sama pada kedua agama tersebut.
Orang-orang di zaman purba bahkan mungkin telah mengajarkan bahwa BAAL dan MOLOKH adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan yang Maha Kuasa , namun itu tidak menjadikannya sama dengan Tuhan orang Kristiani atau Allah orang Muslim . Begitu pula halnya bahwa Allah orang Kristiani dan Islam tidak dijamin kesamaaannya  hanya karena keduanya mengklaim Tuhan yang esa .

TANGGAPAN  :

Ketika Eja Kalima berkata : “ Banyak orang yang beranggapan bahwa TUHAN DALAM ALKITAB dan TUHAN DALAM AL QUR’AN adalah sama dan satu , hanya namanya atau sebutannya saja yang berbeda .Karena sama-sama menyembah  Allah “ satu-satunya Tuhan Yang Esa , maka mereka yakin bahwa Kristen dan Islam memang menyembah Allah yang sama  “ berarti menurut Eja Kalima bahwa adanya anggapan : ” TUHAN DALAM ALKITAB dan TUHAN DALAM AL QUR’AN adalah sama dan satu , hanya namanya atau sebutannya saja yang berbeda ” tidak lain karena adanya “ SALAH PAHAM “ . Pertanyaannya , siapakah yang membuat gara-gara membangun “ SALAH PAHAM “ ini , apakah Kaum Muslimin ataukah  penganut Kristen atau siapa lainnya ?
Pengertian kata “ ALLAH “ dalam Islam jelas berbeda dengan pengertian menurut penganut Kristen. Tetapi harap diingat , kata “ ALLAH “ adalah kosa kata bahasa Arab , bukan kosa kata Ibrani/Aramia atau bukan kosa kata orang Yahudi dan bukan pula kosakata Yunani. Tetapi penganut Kristen telah mengadopsi dan menggunakan kata ” ALLAH ” secara tidak tepat di negara-negara yang mayoritas Muslim . Ini berarti yang bikin gara-gara membangun kesalah-pahaman dan anggapan yang tidak tepat itu adalah pihak Kristen sendiri . Mengapa di daerah-daerah Islam justru penganut Kristen menggunakan kata “ ALLAH “ - sebutan yang sangat akrab dengan keberagamaan ummat Islam karena memang berasal dari bahasa Arab, yang dalam bahasa tersebut diwahyukan Al Qur’an - dan tidak menggunakan saja sebutan : YAHWEH , ELOHIM , EL , ELAH , ELOH ( dalam bahasa Ibrani) atau THEOS ( bahasa Yunani )  atau GOD ( bahasa Inggeris ) atau bahasa lainnya ? Dengan mudah penganut Kristen akan berkilah, YAHWEH, ELOHIM, EL, ELAH, ELOH, THEOS atau GOD sama saja dengan " ALLAH ”. Jika memang demikian , mengapa Eja Kalima justru mempertanyakan penggunaan kata ” ALLAH ” oleh ummat Islam sebagaimana yang kita baca dalam apologinya tersebut ? . Dapat dipastikan , bahwa penggunaan kata ” ALLAH ” oleh penganut Kristen di negara-negara Muslim memang disengaja agar dapat “ menipu “ ummat Islam karena dengan menggunakan kata sebutan “ ALLAH “ maka orang Islam akan beranggapan , rupanya Islam dan Kristen mengajarkan Tuhan yang sama yaitu ALLAH sehingga dapat dikristenkan .
Perhatikan  pernyataan James Pangau  berikut [1] )  :

Berkhotbahlah dengan nama YAHWE ELOHIM kepada orang Yahudi karena mereka yang mengerti kata-kata itu . Kita orang Indonesia , sebut saja “ TUHAN ALLAH “ . Kita tidak memanggil nama DEWA . Ketika kita menyebut  “ TUHAN ALLAH “ , hati kita langsung teringat surga , bukan ingat Arab .  Saya tidak bicara bahasa Belanda jika sedang ikut arisan orang Batak. Rasul Paulus berkata : “ Bagi orang Yahudi  aku seperti orang Yahudi  , supaya aku dapat memenangkan  orang-orang Yahudi . …………………Jadi tujuannya  MEMENANGKAN  JIWA .  Kalau  kata  “ YAHWE  ELOHIM    tidak dapat dipakai  untuk MEMENANGKAN JIWA , PAKAILAH  “ TUHAN ALLAH “…….

Dengan fakta yang sangat jelas ini , tahulah kita bahwa yang bikin gara-gara adanya anggapan bahwa  TUHAN DALAM ALKITAB dan TUHAN DALAM AL QUR’AN adalah sama dan satu,… “ adalah pihak Kristen sendiri , karena menggunakan sebutan “ ALLAH “ yang justru adalah kosa kata bahasa Arab Al Qur’an. Lalu mengapa sekarang Eja Kalima   memprotes “ adanya anggapan yang dikatakan sebagai “ SALAH PAHAM “ terhadap penggunaan kata “ ALLAH “ tersebut kepada Ummat Islam ? Ini namanya tidak fair dan tidak jujur . Pernyataan apologi Eja Kalima di atas , sepertinya hendak meletakkan sumber ‘ SALAH PAHAM “ tersebut kepada ummat Islam , padahal yang bikin gara-gara adalah penganut Kristen sendiri , yang mencuplik nama “ ALLAH “ – Tuhan yang disembah ummat Islam , tetapi dengan memberikan pengertian yang berbeda dari pengertian asalnya menurut Islam . Mengapa dikatakan penganut Kristen mencuplik kata “ ALLAH “ dengan memberikan pengertian yang berbeda ?  Karena kata “ ALLAH “ adalah bahasa Arab Al Qur’an ( Islam ) yaitu  NAMA DIRI DARI TUHAN YANG MAHA ESA , bukan  NAMA UMUM . Tapi celakanya , penganut Kristen mengambil nama tersebut dan mengartikannya sebagai NAMA UMUM, seperti halnya kata “ TUHAN “ karena dianggap sebagai padanan dari ELOHIM . Padahal kata ” ELOHIM ” adalah bentuk jamak dari kata dasar ” ELOH ” dan mendapat tambahan ” IM ” untuk menunjukkan kejamakannya . Sedangkan kata ” ALLAH ” tidak bisa dijamakkan . Jika mau dipadankan untuk kata ” ELOHIM ” adalah ” ILAAHATUN ” , sebagaimana yang akan djjelaskan berikut nanti. Lebih jauh masalah nama ”ALLAH ” ini dapat dijelaskan berikut [2] ).
Kata    ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “) adalah  ghairu musytaq “ artinya kata asli , tidak ada asal katanya .  Kata ini adalah NAMA ASAL DARI YANG WAJIB ADA, MAHA PENCIPTA , YANG MAHA  SUCI , YANG MAHA AGUNG dan yang berhak disembah . Tidak ada yang memiliki nama ini melainkan hanya DIA YANG WAJIB ADA , YANG MAHA SUCI , MAHA PENCIPTA , YANG MAHA AGUNG dan yang berhak disembah. Jumhur ulama seperti ABU HAYAN dan MUHAMMAD ALI SHABUNI berpendapat dan menyepakati jika kata “ ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) adalah  ghairu musytaq “. Oleh karena itu , kata   ﺍﷲ  “ ( “ ALLAH “ ) tidak dapat  di-tatsniyyah-kan    ( diganda-duakan ) dan di-jamak-kan ( digandakan lebih dari dua ). Berbeda dengan kata  ﺍﻹﻟﻪ “ ( al- Ilaahu ) yang diterjemahkan dengan  tuhan  “ adalah sebutan umum yang dapat di- tatsniyyah-kan (diganda-duakan) dan di-jamak-kan ( digandakan lebih dari dua ) menjadi “ Ilaahatun “. Kata  ﺍﻹﻟﻪ   ( al- Ilaahu ) inilah yang sepadan dengan ” ELOH ” atau ” ELOAH ” dan kata ” Ilaahatun “ menjadi padanan dengan “ ELOHIM “ dalam bahasa Ibrani bukan ” ALLAH ” karena kata “ ELOHIM “ berasal dari kata  “ ELOH “ yang mendapat imbuhan akhiran “ IM “ menjadi  bentuk JAMAK sebagaimana kata “ﺍﻹﻟﻪ “ (al- Ilaahu ) dapat dijamakkan menjadi “ Ilaahatun “. Jadi bukan diterjemahkan dengan  “ ALLAH “ . Seharusnya kata “ ELOHIM “ diterjemahkan dengan “ ilah “ bukan “ Allah “ kalau benar-benar mau menggunakan bahasa Arab .Memang  ada  pendapat  bahwa kata “  ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) adalah  musytaq “ artinya  ada asal
katanya. Tapi mereka berbeda pendapat mengenai asal kata    ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) tersebut .  FIRA’       ( meninggal tahun 207 H ) , seorang ahli nahwu dari Kuffah mengatakan asal kata “  ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) adalah  ﺍﻹﻻﻩ“ (al-ilaahu).  Dengan perubahan : harakat hamzah dipindahkan kepada  (lam )   “ yang pertama dan karena bertemu dua   ( lam ) “ maka    ( lam ) “ yang pertama dihilangkan kemudian di-idgham-kan kepada ( lam ) “ yang  kedua, sehingga menjadi kata “ ﺍﷲ “(“ ALLAH “).  Pendapat lain sama dengan Fira’ , tetapi proses perubahannya yang berbeda  yaitu  hamzahnya dibuang sehingga menjadi “  ﺍﷲ ( “ ALLAH “ ) seperti halnya kata “ ﺍﻹﻧﺎﺱ “ ( al- Inaasu ) yang menjadi “ ﺍﻟﻨﺎﺱ “ ( an- Naasu ) . Sedangkan SIBAWAEH  juga ahli nahwu mengatakan , kata “  ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) berasal dari kata   ﻻﻩ ” ( la-hu ) yang mendapat artikel ﺍﻝ ( alif dan lam ) sebagai tanda membesarkan, memuliakan , mengagungkan sehingga menjadi “ ﺍﷲ “ (“ ALLAH “). Jadi yang asli adalah ” ﻻﻩ    sedangkan ”  ﺍﻝ ” ( alif dan lam ) tidak asli . Terlihat pendapat bahwa kata “  ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) adalah musytaq ” ternyata tidak utuh dan terbagi pada beberapa pendapat lagi sehingga sulit dipegang mana yang benar . Fakta kata “  ﺍﷲ “ ( “ ALLAH “ ) tidak bisa di-tatsniyyah-kan ( diganda-duakan ) dan di-jamak-kan ( digandakan lebih dari dua ) menjadi bukti bahwa kata   ﺍﷲ “      ( “ ALLAH “ ) adalah  ghairu musytaq “. Oleh karena itu  menterjemahkan ” ELOHIM ” ( bentuk jamak ) dengan  ” Allah ”  yang tidak bisa di-tatsniyyah-kan ( diganda-duakan ) dan di-jamak-kan ( digandakan lebih dari dua ), jelas merupakan penyimpangan yang dilakukan penganut Kristen dengan tujuan-tujuan tertentu , bukan sekedar masalah bahasa dalam terjemah-menterjemahkan. Hebatnya dalam ALKITAB LAI 1968, kata “ ELOHIM “ diterjemahkan dengan “ DEWA DEWA “. Perhatikan ayat Mazmur 82 : 6  versi Alkitab LAI 1968 :

Sungguhpun Aku telah berfirman bahwa kamu-lah DEWA-DEWA dan kamu sekalian ANAK ALLAH TA’ALA

Bandingkan dengan versi Alkitab LAI 1976 – 2000 . Ayat Mazmur 82 : 6  berbunyi :  Aku sendiri telah berfirman : ‘ Kamu adalah ALLAH dan anak-anak YANG MAHA TINGGI kau sekalian   ( catatan : Kata “ ALLAH “ dalam huruf kecil ).  Kata-kata “ DEWA-DEWA “ dan  “ ALLAH “ adalah terjemahan untuk kata  “ ELOHIM “ . Dengan kata lain : ELOHIM = DEWA-DEWA = ALLAH . Jadi yang bikin gara-gara adalah pihak Kristen sendiri.  Ingat, tidak ada ummat Islam ( kaum Muslimin ) yang memaksa penganut Kristen menggunakan sebutan  “ ALLAH “ untuk Tuhan Yang Maha Esa sehingga menimbulkan “ SALAH PAHAM “ tersebut  melainkan keinginan pihak Kristen sendiri untuk “ mengkomunikasikan “ kepercayaan Kristen kepada ummat Islam. Dengan menggu-nakan sebutan “ ALLAH “ diharap ummat Islam terpukau dan berfikir akidah Islam sama dengan akidah Kristen . Oleh karena  itu justru ummat Islam , secara akidah benar-benar dirugikan dengan penggunaan kata “ ALLAH “ oleh pihak Kristen untuk menyebut ” TUHAN ”-nya . Tetapi ummat Islam tidak bisa melarang . Nyatanya penganut Kristen di Timur Tengah juga menggunakan kata “ ALLAH ‘ sebagai nama Tuhan .
Selanjutnya menjadi pertanyaan, apakah TUHAN ALKITAB sama dengan ALLAH AL QUR’AN ?  Ataukah berbeda ? Menurut Eja Kalima dengan kalimat yang samar-samar menyatakan perbedaannya ( “ Allah orang Kristiani dan Islam tidak dijamin kesamaaannya  hanya karena keduanya mengklaim Tuhan yang esa  “ ). Demikian itu adalah urusan orang Kristen dan supaya tidak sama , tentu sangat wajar bila penganut Kristen di negara-negara Muslim jangan menggunakan kata ” ALLAH ” tapi gunakan saja  ” ELOHIM ” –  ” YAHWE ”  atau apa saja selain ” ALLAH ” menurut maunya penganut Kristen , khususnya menurut maunya Eja Kalima  . Ummat Islam sangat senang bila terjadi seperti itu supaya tidak ada orang Islam awam yang tertipu gara-gara menggunakan kata ” ALLAH ” yang sama tetapi dengan pengertian yang berbeda .
Sebenarnya apakah Tuhan yang disembah penganut Kristen dengan Allah yang disembah ummat Islam ( kaum Muslimin ), dipahami berbeda atau tidak, sangat bergantung dari sisi mana melihatnya  :  ESOTERIS  ataukah EKSOTERIS.  Dari sisi ESOTERIS , dapat diyakinkan bahwa TUHAN YANG MENCIPTA ALAM SEMESTA  ini hanya SATU , TIDAK DUA ATAU LEBIH . Tuhan yang mencipta orang-orang Kristen adalah Tuhan yang sama yang juga mencipta orang-orang Islam , orang-orang Yahudi , orang-orang Hindu dan Budha , dan manusia lainnya , juga segenap makhluq yang ada di alam semesta ini . Jika dipahami dan diyakini , secara esoteris  memang ADA TUHAN YANG LEBIH DARI SATU, tentu antara tuhan-tuhan itu akan saling berkelahi berebut  “ MAHA KUASA “ dan berebut “ HAK DISEMBAH “ . Tidak ada manusia waras yang berfikir adanya Tuhan lebih dari satu , secara esoteris . Dari sisi EKSOTERIS, konsep tentang apa dan bagaimananya TUHAN, berkembang dalam pema-haman manusia baik berdasarkan kitab suci atapun nalar manusia.  Akibatnya bagaimana konsep “ TUHAN “ yang TAUHID dalam Islam , berbeda dengan konsep   “ TUHAN “ yang TRINITAS dalam Kristen dan berbeda dengan konsep “ Tuhan “ yang  TRIMURTI dalam agama Hindu  dan seterusnya . Inilah adalah wilayah di mana manusia boleh mempertanyakan kebenaran konsep tentang “ TUHAN “ yang diyakini pada masing-masing suatu agama bahkan bisa mempertanyakan kebenaran konsep “ TUHAN “ yang diyakininya sendiri untuk menuju kepada kebenaran “ TUHAN “ secara ESOTERIS. Dengan demikian , dari sisi EKSOTERIS , Tuhan yang disembah ummat Islam berbeda dengan Tuhan yang disembah penganut Kristen ; begitu pula dengan Tuhan yang disembah penganut agama lain. Tapi sayang, kalimat pernyataan Eja Kalima tersebut  tidak membatasi hanya pada sisi EKSOTERIS , tapi bisa menyentuh ke sisi ESOTERIS sehingga membedakan TUHAN ALKITAB dengan ALLAH AL QUR’AN secara ESOTERIS  merupakan satu  kengawuran.
Dan yang mengherankan, bagaimana Eja Kalima bisa berkata : “ Orang - orang di zaman purba bahkan mungkin telah mengajarkan bahwa BAAL dan MOLOKH adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan yang Maha Kuasa , namun itu tidak menjadikannya sama dengan Tuhan orang Kristiani atau Allah orang Muslim  “ pada hal Alkitab/Bibel sendiri justru menyatakan bahwa BAAL dan MOLEKH adalah sesembahan lain selain Allah dan Allah meng-hukum Bani Israel karena ikut menyembah BAAL dan MOLEKH ?.  Ayat Imamat 20 : 2 menegaskan : “ …Barang siapa daripada Bani Israil atau daripada segala orang dagang yang duduk menumpang di antara orang Israel, jikalau dipersembahkan anaknya kepada MOLEKH, orang itu akan MATI DIBUNUH, dilempari dengan batu oleh orang seisi negeri  Tentu sangatlah tidak benar dan tidak tepat jika Eja Kalima masih berkata  Orang - orang di zaman purba bahkan mungkin telah mengajarkan bahwa BAAL dan MOLOKH adalah satu-satunya Tuhan yang benar dan yang Maha Kuasa  namun itu tidak menjadikannya sama dengan Tuhan orang Kristiani atau Allah orang Muslim ” ketika Alkitab/Bibel , kitab suci agama Kristen yang dianutnya menegaskan bahwa orang yang menyembah MOLEKH  harus dihukum rajam ( ” akan MATI DIBUNUH , dilempari dengan batu oleh orang seisi negeri “). Tetapi terlepas dari hal tersebut, konsep ESOTERIS dan EKSOTERIS tetap berlaku di mana dari aspek EKSOTERIS bisa dipertanyakan kebenaran kepercayaan terhadap BAAL dan MOLOKH tersebut sekalipun “ mungkin “ (-seperti yang dikatakan Eja Kalima - ) penganut meyakini BAAL dan MOLOKH sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa .
Untuk diketahui pula , pernyataan Eja Kalima ini hanya pengutipan kembali dengan sedikit perubahan dari pernyataan Dr. Robert A. Morey  : “ Orang - orang di zaman kuno boleh jadi telah  mengajarkan bahwa BAAL atau MOLOKH merupakan satu-satunya Tuhan yang benar . Atau mungkin juga  orang-orang Yunani memperdebatkan apakah Zeus ataukah Jupiter yang menjadi Tuhan yang benar . Hanya sekedar memperdebatkan persoalan adanya Tuhan yang Esa , tidak otomatis berarti bahwa Tuhan Maha Esa yang anda pilih ( yakini ) untuk disembah adalah Tuhan yang mutlak benar  [3] ).


[1] ) . James Pangau , GOSPEL ANSWER ( booklet ) hal. 21.
[2]). Penjelasan yang lebih mendalam masalah ini dapat dibaca buku “ JANGAN TERJEMAHKAN AL QUR’AN MENURUT INJIL DAN ORIENTALIS  “ oleh Ahmad Husnan .
[3] ).  Dr. Robert A. Morey , The Islamic Invansion , ( ed. terjemahan bhs. Indonesia hal. 261 ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar