ALLAH AL QUR'AN DAN " ALLAH " ALKITAB (3)
JANGAN BERHENTI PADA KLAIM : TUHAN ELOHIM SAMA DENGAN ALLAH ISLAM .
SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :
Eja Kalima berkata :
Klaim bahwa TUHAN ELOHIM adalah sama dengan ALLAH ISLAM , tidak boleh berhenti pada klaim semata tetapi harus dibuktikan melalui sains , catatan arkeologi dan/atau sejarah . Harus dicarikan asal-usul ALLAH , nama-Nya , atribut-atribut Allah dan asal-usul pewahyuan dan agen pewahyu dan ritual penyembahan-Nya . Dari apa yang terfakta , ternyata klaim tersebut malah membuktikan sebaliknya yaitu bahwa kedua TUHAN dan ALLAH ini praktis tidak ada samanya di segala bidang ( lihat berikutnya ) “ .
SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :
Serbenarnya pernyataan ini harus ditujukan kepada sesama Kristen dengan Eja Kalima , sekalipun dari sekte yang berbeda , karena yang berpendapat bahwa TUHAN ELOHIM adalah sama dengan ALLAH ISLAM adalah mereka , bukan ummat Islam . Tidak ada kepentingan ummat Islam ( kaum Muslkimin ) untuk menyamakan TUHAN ELOHIM dengan ALLAH ISLAM . Dan juga , tidak ada kepentingan ummat Islam (kaum Muslimin ) untuk mengubah TUHAN ELOHIM dengan ALLAH ISLAM . Semua itu memang tidak pernah dilakukan oleh ummat Islam ( kaum Muslimin ) karena ummat Islam tidak pernah mengenal nama Tuhan dengan sebutan ” ELOHIM ” sehingga Eja Kalima tidak perlu berkata : ” tidak boleh berhenti pada klaim semata ”. Justru yang ada adalah kepentingan penganut Kristen yang telah mengubah TUHAN ELOHIM-nya menjadi istilah ” ALLAH ” yang justru menjadi nama TUHAN dalam ISLAM. Akibatnya terjadi tindakan penganut Kristen yang mengambil sebutan ” ALLAH ” dalam Islam untuk menterjemahkan ” TUHAN ELOHIM ”-nya penganut Kristen . Oleh karena itu, pernyataan tersebut lebih tepat ditujukan kepada sesama Kristennya , entah dari sekte mana saja . Jangan dibalik ! Dan hebatnya Si Kristen menantang untuk membuktikan melalui sains , catatan arkeologi dan / atau sejarah untuk membuktikan kebenaran klaim bahwa “ TUHAN ELOHIM adalah sama dengan ALLAH ISLAM “. Bagus ! Kepada siapakah tantangan ini diajukan ? Yang mengklaim bahwa “ TUHAN ELOHIM adalah sama dengan ALLAH ISLAM “ itu siapa ?. Bukankah yang menganggap kedua istilah itu sama adalah penganut Kristen sendiri ?
Kalau melihat tujuan pengadaan ” Jamuan ” yang diadakannya , tentu Eja Kalima menujukan tantangan tersebut kepada ummat Islam , bukan ? . Bagus ! Sekali lagi , bagus dan sangat bagus ! Itu yang ditunggu ummat Islam (kaum Muslimin) supaya jangan hanya berbicara dogmatis Tetapi menjadi pertanyaan, klaim dari aspek mana ? Apakah dari aspek ESOTERIS, ataukah dari aspek EKSOTERIS ? Tentu tidak mungkin dari aspek ESOTERIS sebab dari keyakinan kepada SANG MAHA PENCIPTA, semua agama meyakini bahwa Tuhan yang Maha Pencipta alam semesta dengan segala isinya tidak mungkin ada DUA TUHAN ATAU LEBIH. Jelas yang diharapkan adalah dari aspek EKSOTERIS, yang menyangkut konsep tentang TUHAN , SANG MAHA PENCIPTA. Ummat Islam sangat tahu akan back ground tantangan Eja Kalima ini untuk mengkaji melalui “ sains , catatan arkeologi dan/atau sejarah “ karena ia memiliki pemahaman bahwa “ ALLAH “ yang disembah ummat Islam dari segi arkeologi tidak lain adalah : DEWA AIR BAGI BANGSA ARAB dan ritual Haji yang dilaksanakan ummat Islam tidak lain tradisi kafir jahiliyah karena ALLAH-nya ummat Islam adalah KA”ABAH ! Oleh karena itu Eja Kalima ini berkata : “ Harus dicarikan asal-usul ALLAH, nama-Nya , atribut-atribut Allah dan asal-usul pewahyuan dan agen pewahyu dan ritual penyembahan-Nya. Dari apa yang terfakta, ternyata klaim tersebut malah membuktikan sebaliknya yaitu bahwa kedua TUHAN dan ALLAH ini praktis tidak ada samanya di segala bidang “. Bukankah demikian wahai Eja Kalima ? Kita akan lakukan kajian ini .
Mengkaji nama TUHAN ini dari “ sains , catatan arkeologi dan/atau sejarah “ tentu jangan hanya untuk “ ALLAH AL QUR’AN “ saja ( -mengikuti istilah Eja Kalima - ) tetapi juga harus mengkaji “ TUHAN ALKITAB “ ( -mengikuti istilah Eja Kalima - ) dari segi “ sains , catatan arkeologi dan/atau sejarah “. Itu baru adil namanya . Tantangan Eja Kalima disambut dengan sangat senang hati untuk membuktikan kebenaran iman masing-masing . Sejumlah pihak Kristen yang “ bringas “ selalu menyatakan bahwa secara arkeologis , “ ALLAH “ adalah nama dari DEWA BULAN . Lalu Islam mengambil nama DEWA AIR ini sebagai nama sesembahan. Dengan demikian, sesungguhnya ummat Islam telah mengangkat DEWA AIR sebagai tuhan yang disembah . Sebagai contoh, kita simak tulisan Dr.Robert A. Morey dalam bukunya yang berjudul ” THE ISLAMIC INVASION ” – yang katanya - engan mengutip beberapa sumber sebagai berikut :
Kata “ ALLAH “ adalah asli dan murni kata bahasa Arab yang dahulu dipergunakan untuk menyatakan “ DEWA ARAB “
Hasting’s Encyclopedia of Religion and Ethics menyebutkan : “ ALLAH adalah kata sebuah nama untuk menyatakan dewanya orang-orang Arab secara spesifik “
Menurut Encyclopedia of Religion : “ ALLAH adalah nama Dewa sebelum Islam yang artinya sama dengan “ BEL “ ( DEWA BUMI ) dari Babilonia .
Tidak diragukan lagi memang kata “ ALLAH “ adalah asli dan murni kata bahasa Arab dan kata ini juga dicuplik dan diadopsi penganut Kristen dalam kitab suci mereka yang diterjemahkan dalam bahasa negeri mayoritas Islam . Tetapi mana bukti arkeologinya sebagaimana yang dikatakan Eja Kalima ? . Dr. Rober A. Morey menyebut “ALLAH “ adalah “ DEWA BULAN “, sedangkan Hasting’s Encyclopedia of Religion and Ethics hanya menyebut dengan “ DEWA ORANG-ORANG ARAB “ dan Encyclopedia of Religion menyebut “ALLAH adalah DEWA BUMI yang artinya sama dengan “BEL" dari Babilonia ”.
James Pangau mengungkapkan adanya tudingan bahwa “ ALLAH “ dalam Islam itu adalah nama DEWA PENGAIRAN tetapi James Panagu tidak setuju dengan tudingan tersebut . James Pangau berkata : ” ... sesungguhnya Allah itu BUKAN DEWA PENGAIRAN . Kalau ALLAH itu DEWA , saya rasa Al Qur’an tidak akan menuliskan-nya ... ” [1] ). Rupanya James Pangau lebih jujur melihat nama ” ALLAH ” ini dan tidak trauma dan strees seperti yang ditunjukkan oleh Eja Kalima dan si Apologist Kristen Kamil Mukamil . Seorang penulis Kristen lainnya bernama Hulos Touiesou (- entah nama betulan atau nama samaran -) mengungkapkan
istilah ” ALLAH ” menurut masa penggunaannya dengan berkata [2]) :
ALLAH ( Arab Jaman Jahilyah ) ---- > nama pribadi dari DEWA AIR atau DEWA BULAN menurut konsep orang Arab Jaman Jahilyah .
Perhatikan betapa amburadulnya tentang kedudukan “ ALLAH “ sebagai “ DEWA “ ini dalam pernyataan orang-orang Kristen. Ada yang memberi pengertian secara umum: “DEWA ORANG-ORANG ARAB “ tanpa disebut sebagai dewa apa . Ada yang mengatakannya sebagai “ DEWA BULAN “, ada pula yang mengatakannya sebagai “ DEWA BUMI “ dan ada yang mengatakannya sebagai DEWA PENGAIRAN. Juga ada pula yang menyebutnya sebagai “ DEWA AIR atau DEWA BULAN “. Fakta keamburadulan ini saja sudah menjadi bukti betapa tidak berdasarnya tuduhan tersebut . Sebenarnya tuduhan semacam itu tidak perlu dimunculkan oleh pihak Kristen untuk menyudutkan Islam karena nyatanya : EL atau ELOH yang dijamakkan menjadi ELOHIM , tidak lain adalah nama DEWA juga yaitu DEWA PEGUNUNGAN. Dalam hal ini Karen Armstrong menulis [3] ):
Kita bisa melangkah lebih jauh . Adalah sangat mungkin bahwa TUHAN ABRAHAM ADALAH EL , TUHAN TERTINGGI KANAAN. Tuhan itu memperke-nalkan dirinya kepada Abraham sebagai EL SHADDAI ( EL PEGUNUNGAN ) Di tempat lain , dia disebut EL ELIYON ( TUHAN YANG MAHA TINGGI ) atau EL dari BETH-EL.. NAMA TUHAN TERTINGGI KANAAN terekam dalam nama-nama berbahasa Ibrani seperti : Isra-EL atau Ishma-EL .
Dengan fakta pengakuan Karen Armstrong ini , apa yang menjadi kilah Eja Kalima tentang Tuhan dalam Bibek yang ternyata adalah TUHAN PEGUNUNGAN tersebut ? Terlepas dari “ amburadul “-nya pendapat tentang nama “ ALLAH “ yang dituduhkan sebagai nama DEWA tersebut, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab, sejak kapan kata “ ALLAH “ ini dijadikan nama DEWA ? Penganut Kristen yang “ beringas “ selalu menyebut bahwa nama “ ALLAH “ sudah ada sebelum Islam . Betul ! Tapi Itu belum menjawab substansi pertanyaan tersebut . Keberadaan nama “ ALLAH “ sebelum Islam tidak harus diartikan bahwa nama “ ALLAH “ adalah nama dewa Arab Jahiliyah. Nabi Muhammad SAW selaku pembawa agama Islam tidak diharuskan menyebut nama lain dari Tuhan karena memang nama diri Tuhan adalah : ALLAH . Jika dipahami bahwa nama “ ALLAH “ sudah ada sebelum Islam dan itu harus diartikan bahwa “ ALLAH “ adalah nama dewa Arab Jahiliyah , berarti harus diakui bahwa “ ALLAH “ sebagai nama dewa telah lebih dahulu ada dibandingkan dengan masa ketika Nabi Ibrahim yang mengajarkan nama “ ALLAH “ itu kepada anak-anak turunannya. Apakah Nabi Ibrahim mengambil kata “ ALLAH “ sebagai nama Tuhan-nya dan mengajarkan kepada anak turunnya , padahal itu adalah nama DEWA BANGSA ARAB ? Tidak ! Justru Nabi Ibrahim-lah yang mengajarkan nama Tuhan itu : ALLAH , bukan lainnya. Dan sepeninggal Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail , sejalan dengan proses evolusi akidah dari monotheis menjadi politheis atau akibat penyimpangan akidah dari Tauhid ke Syirk , manusia-manusia Arab tetap menyebut nama “ ALLAH “ itu sebagai Tuhan mereka tetapi disandingkan dengan berhala-berhala. Adanya proses penyimpangan kepercayaan dari monotheis ke politheis - bukan dari politheis ke monotheis seperti diteorilkan para ahli social – diungkapkan Wilhem Schmidt dalam bukunya ” The Origen of the Idea of God “ dengan menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa . Kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi ( kadang-kadang disebut Tuhan langit karena dia diasosiasikan dengan ketinggian ) masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika ).
Merujuk kepada pendapat Wilhem Schmidt tersebut berarti sejak pertama kali dibawa para nabi memang Tuhan itu namanya “ ALLAH “ lalu akibat penyimpangan akidah maka manusia tidak lagi menyembah Allah secara mutlak sebagai Tuhan tetapi sudah disandingkan dengan berhala-hala namun nama “ ALLAH “ tetap lestari dalam ritual mereka . Oleh karena itu , betapa lemahnya aksioma bahwa karena kata “ ALLAH “ sudah dikenal sebelum Islam , maka berkembanglah tuduhan bahwa Islam mengajarkan Tuhan yang sesungguhnya adalah DEWA KEPERCAYAAN ORANG-ORANG ARAB karena menurut tuduhan penganut Kristen “ bringas “ ini, kata “ ALLAH “ adalan nama DEWA bangsa Arab. Justru Nabi Muhammad SAW datang membawa ajaran yang meluruskan kembali ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim yang telah disimpangkan oleh masyarakat Arab dengan menempatkan “ ALLAH “ dalam posisi yang benar sebagai nama Tuhan Yang Maha Kuasa yang sebenarnya , bukan dewa atau nama berhala atau semacamnya .
Tradisi Arab Jahiliyah seperti sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW , tidak pernah menempatkan “ ALLAH “ sebagai DEWA atau sebagai BERHALA seperti yang dituduhkan secara bodoh oleh penganut Kristen yang “ bringas “ tetapi dalam kepercayaan mereka tetap menempatkan ALLAH . TUHAN YANG MAHA KUASA sebagai MAHA PENCIPTA, AL KHALIQ. Ini disebut dengan TAHUHID ULUHIYAH . Tetapi mereka mensyarikatkan Allah dengan berhala-berhala . Jadi mereka meng-ingkari ALLAH , TUHAN YANG MAHA KUASA dari segi TAUHID RUBUBIYAH , yaitu meyakini berhala-berhala sebagai tuhan yang memberi kebaikan , keselamatan , rejeki dan sebagainya selain ALLAH , TUHAN YANG MAHA KUASA. Ini bukan berarti ALLAH sebagai salah satu berhala. Ini dapat dibandingkan dengan penyebutan YAHWEH bersamaan dengan nama dewa-dewa Syria Kuno . Inskripsi kuno yang ditemukan di Kuntiled Ajrud , di daerah sekitar Nablus sekarang ini , menyatakan demikian [5] ):
Berkatekem le YAHWEH syomron we le’asyeratah
( Aku memberkati engkau DEMI YAHWE dari Samaria dan DEMI ASYERA )
ASYERA adalah nama DEWI KESUBURAN Palestina [6] ). Ternyata, YAHWE sebagai nama Tuhan-nya orang Kristen disandingkan bersama dengan ASYERA, Dewi Kesuburan Palestina. Lalu apakah itu berarti , YAHWE juga adalah nama DEWA ? Tentu tidak . Demikian pula dengan ALLAH , yang disebut bersama-sama dengan nama berhala-berhala oleh orang-orang Arab Jahilyah , tidak bisa diartikan : ALLAH adalah salah satu berhala .
Fakta riwayat sebelum datangnya Islam bercerita , ketika Abrahah dan pasukan Kristen-nya menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah , Abdul Muththalib ( -kakek Nabi Muhammad SAW -) pemimpin Quraisy Makkah dan pengurus Ka’bah pada waktu itu, bermunajat kepada Tuhan di depan Ka’bah :
Ya Allah, hambaMu mempertahankan untanya, mohon pertahankanlah rumah-Mu ( Ka’bah-Mu ) “.
Abdul Muththalib tidak menyeru nama – nama berhala tetapi menyeru nama Allah sebagai Tuhan-nya. Tidak ada gagasan di dalamnya bahwa ALLAH ADALAH DEWA . Memang orang -orang Arab di masa jahiliyah memiliki kebiasaan bersumpah dengan mengucapkan :
“ LA , WA RABBIL BAIT WAL HAJAR “
( Tidak ! , Demi Tuhan Penguasa atas Ka’bah dan Hajar Aswad !! ).
Pernyataan ini memberi gambaran bahwa orang-orang di zaman jahiliyah meyakini Tuhan mereka adalah ALLAH sekalipun dalam keseharian , mereka menyekutukan ALLAH dengan berhala-berhala sebagai sesembahan selain Allah . Lalu bagaimana nama Tuhan berdasarkan kajian arkeologi dari kalangan Kristen ?
Bambang Noorsena, tokoh Gereja Orthodoks Syria di Indonesia , mengungkapkan bahwa pada tahun 1881 ditemukan sebuah inskripsi Kristen kuno di Zabad , sebuah kota sebelah tenggara kota ALEPPO ( bhs. Arab : HALAB ) Syria sekarang . Inskripsi ini berasal dari tahun 512 , sebelum Islam dengan bunyi demikian [7] ):
Bismillah , Serjius bar “Amad , manaf wa Hani bar Mar al- Qais , Serjius bar Sa’d wa Sitr wa
Sahuraih ( Dengan nama ALLAH , Serjius bin Amad , Manaf wa Hani bin Mar al- Qais , Serjius bin Sa’d dan Sitr dan Sahuraih )
Menarik diperhatikan, inskripsi kuno Kristen pra Islam ini dimulai dengan NAMA ALLAH : “Bismillah “ . Ini berarti bahwa penganut Kristen pra Islam justru memiliki pemahaman , nama Tuhan adalah : ALLAH , yang justru berakar pada kultur Arab , bukan EL , ELAH , ELOH dan bukan “ YAHWEH atau YEHOVAH atau YEHUWA atau HUWA “ yang berakar pada kultur Ibrani/Yahudi . Jika memang tradisi Yahudi dan Nasrani tidak mengenal kata ” ALLAH ” sebagai Tuhan yang disembah , lalu mengapa dalam inskripsi Kristen yang ditulis sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw , justru menyebut nama ” ALLAH ” dalam kata ” BISMILLAH ” ( DENGAN NAMA ALLAH ) yang bermakna ALLAH sebagai Tuhan sesembahan ?
Bambang Noorsena juga mengungkapkan pernyataan Yasin Hamid al-Safadi dalam “ The Islamic Caligraphi “ tentang inskripsi pra Islam lainnya berasal pertengahan abad ke -6 yang ditemukan di Ummul Jimaal. Inskripsi di Ummul Jimaal ini dimulai dengan “ALLAH GHAFRAN “ yang berarti : ALLAH MENGAMPUNI. Ini menunjukkan bahwa di Syria , Tuhan dengan nama “ ALLAH “ disembah secara benar [8] ),
Kosa kata “ Bismillah “ dan “ Allah Ghafran “ adalah kosa kata yang ISLAMI dan menjadi kosa kata harian dalam dzikir dan do’a ummat Islam . Fakta ini menunjukkan Islam telah memberi pengajaran tentang nama sesungguhnya dari Tuhan yaitu Allah dan tentang akidah kepada-Nya , yang ternyata memang telah ada sebelum Islam , dan nama itu bukan nama DEWA atau semacamnya . Nah, di hadapan Eja Kalima telah disajikan melalui sains , catatan arkeologi dan /atau sejarah untuk membuktikan kebenaran “ Klaim bahwa TUHAN ELOHIM adalah sama dengan ALLAH ISLAM “ sesuai dengan tantangannya . Tinggal sekarang , apa bantahan Eja Kalima atas bukti ini ? Eja Kalima harus menolak penjelasan ini dengan menyajikan fakta sains yang menolak fakta arkeologi tersebut agar tidak disebut TUKANG BUAL ! Dan yang tidak kurang pentingnya untuk disampaikan kepada Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya , jika anda semua menggunakan sebutan ” ALLAH ” untuk Tuhan yang anda sembah , JANGAN BERHENTI SAMPAI DI SITU tapi terapkan bagaimana konsep kata ” ALLAH ” itu menurut sumber asalnya yaitu AL QUR’AN . Jangan mengambil kosa-kata dari Al Qur’an tetapi maknanya disimpangkan dari makna sumbernya. Itu cara yang tidak benar . Jika anda semua tidak menerapkan konsep kata ” ALLAH ” itu menurut sumber asalnya yaitu AL QUR’AN – mari kita berterus terang saja - berarti sesungguhnya ada motivasi tersembunyi dari penggunaan kata ” ALLAH ” bagi Tuhan anda tersebut , ketika orang-orang Kristen di Barat sangat anti menggunakan kata ” ALLAH ” . Motifnya adalah agar bisa mengelabui ummat Islam agar dapat dimurtadkan dari agama Islam ! Eja Kalima sudah menunjukkan penolakan terhadap sebutan ” ALLAH ” , berarti konsekwensi logisnya jangan menggunakan istilah ” ALLAH ” bagi Tuhan anda . Hal ini akan lebih menyelamatkan ummat Islam dari penipuan dan pengelabuan !
[1]). James Pangau , Gospel Answer , hal. 13 .
[3]). Karen Armstrong, “ A History of God : The 4,000 Year Quest of Judaism, Christianity And Islam “ ( edisi bhs. Indonesia : “ Sejarah Tuhan “ ) hal. 41
[5] ). Bambang Nursena , MENUJU DIALOG TEOLIGI KRISTEN-ISLAM , hal.70 . Bambang Nursena adalah seorang pakar dan teolog dari Gereja Ortodoks Syria , dan Dosen Universitas Kristen Cipta Wacana , Malang.
[6] ). Nama “ASYERA “ mungkin dapat dihubungkan dengan “ASTORET “ . Dalam ayat 1 Raj. 11 : 5 ada disebut nama “ ASTORET “ , berhala orang Sidon, dan “ MILKHOM “ berhala orang Ammoni . Juga 2 Raj. 11 : 33 mengungkap hal yang sama , ditambah “ KAMOS “ berhala orang Moabi
[7]). Bambang Nursena , MENUJU DIALOG TEOLOGIS KRISTEN-ISLAM “ , hal. 75
[8]). Di samping inskripsi Ummul Jimaal yang bertahun 512 ini juga Inskripsi Ummul Jimaal yang berangka tahun 250 M yaitu berupa inskripsi dua bahasa : GREEK dan NABATEAN di atas batu Fihr. Para ahli seperti Littman dan diikuti Cantineau , Abbot menyebutnya dengan “ INSKRIPSI NABATEAN “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar