MASAKAN ALLAH PUNYA ” ANAK ALLAH ” (3)
ALLAH BERINKARNASI MENJADI MANUSIA
SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :
Eja Kalima memberi pernyataan berikut :
Islam menolak bahwa Allah dan manusia bisa saling berinkarnasi . Benar ! Memang tak mungkin manusia “ berinkarnasi “ menjadi Allah . Tetapi teman Muslim sering lupa bahwa sebenarnya tidak ada masalah apapun bilamana ALLAH SENDIRI YANG INGIN BERINKARNASI MENJADI MANUSIA . Jangankan Allah , Iblis pun pun bisa berinkarnasi ( dalam unjud lain ) ke dalam diri manusia lalu terjadilah apa yang diistilahkan sebagai “ KERASUKAN SETAN “ . Kita harus mengakui bahwa sesungguhnya tidak ada istilah lain yang lebih tepat daripada “ ANAK “ untuk meng-komunikasikan konsep inkarnasi FIRMAN ALLAH yang berhakekat sama dengan Allah ( lihat Yoh . 1 : 1 ) menjadi ANAK MANUSIA . Kenapa? Karena disini tersangkut suatu “ KELAHIRAN SPIRITUAL “ yaitu “ INKARNASI ( penjelmaan ) KALIMAT ALLAH “ menjadi ANAK MANUSIA YESUS dalam dwikodrat : ALLAH-MANUSIA .
Percakapan Yesus dengan Nikodemus ( Yohanes ps. 3 ) memberi penerangan ilahi bahwa kita-kita ini baru bisa masuk dalam Kerajaan Allah bersama Sang Anak “ yang dilahirkan spiritual dalam Roh Kudus “ apabila posisi kita pun telah diubahkan oleh Roh Kudus sebagai ANAK ALLAH YANG DILAHIRKAN KEMBALI ( ayat 3 ).
SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :
Eja Kalima berbicara tentang INKARNASI. Islam memang menolak semua bentuk inkarnasi. Biasanya yang dipahami dengan konsep INKARNASI itu adalah inkarnasi Tuhan menjadi manusia dan tidak ada sedikitpun pemahaman tentang terjadinya inkarnasi manusia menjadi Tuhan . Oleh karena itu sangat mengherankan pernyataan Eja Kalima : “ Islam menolak bahwa Allah dan manusia bisa saling berinkarnasi . Benar ! Memang tak mungkin manusia “ berinkarnasi “ menjadi Allah “. Baru sekarang didengar ada kepercayaan tentang inkarnasi manusia menjadi Tuhan. Islam menolak adanya INKARNASI Tuhan menjadi manusia , apalagi yang namanya inkarnasi manusia menjadi Tuhan . Hanya menjadi pertanyaan , apakah yang dimaksud dengan INKARNASI tersebut ? Jawaban dari pertanyaan ini dapat disimak dari pernyataan apologi Eja Kalima di atas, yang ternyata telah memberikan pengertian INKARNASI yang amburadul .
Pertama-tama Eja Kalima menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan INKARNASI itu adalah : KERASUKAN. Ini sesuai dengan pernyataan Eja Kalima : “ Iblis pun pun bisa berinkarnasi ( dalam unjud lain ) ke dalam diri manusia lalu terjadilah apa yang diistilahkan sebagai KERASUKAN SETAN “. Ini sangat menarik dan diharap Eja Kalima tetap konsisten dengan pernyataannya ini bahwa yang dimaksud dengan INKARNASI adalah bermakna KERASUKAN. Berdasarkan apa yang dapat dipahami dari ungkapan “ KERASUKAN SETAN “, rupanya INKARNASI FIRMAN menjadi manusia Yesus , tidak lain adalah “ YESUS MENGALAMI KERASUKAN FIRMAN “. Artinya Yesus benar-benar hadir sebagai manusia secara mutlak lalu kemudian mengalami " KERASUKAN FIRMAN " . Ini berarti bahwa dalam batas hanya “ MENGALAMI KERASUKAN FIRMAN “, tidak terjadi penjelmaan Firman menjadi manusia Yesus. Tidak akan ada pengertian SEHAKEKAT atau SATU KODRAT antara Firman dengan Yesus karena memang hanya sebatas KERASUKAN FIRMAN. Manusia yang kerasukan setan tentu tidak bisa dikatakan sehakekat dengan setan atau tidak akan satu kodrat dengan setan.
Tetapi ternyata kemudian pada bagian kalimat apologi berikutnya , Eja Kalima ini memberi pernyataan tentang pengertian INKARNASI yaitu : …. konsep inkarnasi FIRMAN ALLAH yang berhakekat sama dengan Allah ( lihat Yoh . 1 : 1 ) menjadi ANAK MANUSIA . Kenapa? Karena disini tersangkut suatu “ KELAHIRAN SPIRITUAL “ yaitu “ INKARNASI ( penjelmaan ) KALIMAT ALLAH “ menjadi ANAK MANUSIA YESUS DALAM dwikodrat : ALLAH-MANUSIA “. Betapa amburadulnya pengertian INKARNASI yag dikemukakan Eja Kalima dan hal itu disajikannya dalam jamuan yang mengundang ummat Islam . Kejelasan dan kebenaran model apa tentang INKARNASI dengan menyuguhkan definisi INKARNASI yang berlainan dan berkontradiksi ini ?
Menghubungkan “ dua definisi “ TRINITAS yang disajikan Eja Kalima akan berujung kepada pertanyaan, apakah “ INKARNASI ( penjelmaan ) KALIMAT ALLAH “ menjadi ANAK MANUSIA YESUS DALAM dwikodrat : ALLAH-MANUSIA “ yang dikatakan Eja Kalima sama dengan “ KERA- SUKAN FIRMAN DALAM DIRI YESUS “ ? Jelaslah dengan adanya dua “ definisi “ tentang INKARNASI yang disajikan Eja Kalima tersebut menunjukkan betapa amburadulnya penjelasan penganut Kristen tentang INKARNASI , yang akhirnya bermuara pada kesimpulan bahwa konsep tentang INKARNASI di mana FIRMAN menjadi manusia Yesus adalah TIDAK BENAR .
Terlepas dari kebingungan penjelasan dan definisi INKARNASI yang disajikan Eja Kalima tersebut , biasanya dijelaskan oleh penganut Kristen lainnya bahwa yang dimaksud dengan INKARNASI adalah penjelmaan FIRMAN menjadi daging . Ini didasarkan pada ayat Yahya 1 : 14
Firman itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita ( dan kami sudah memandang kemuliaannya yaitu kemuliaan Anak yang tunggal yang dari pada Bapa ) penuh dengan anugerah dan kebenaran
Jadi , dagingnya manusia Yesus tidak lain adalah wujud fisik dari Firman sebagai hasil inkarnasi . Nah jika demikian timbul pertanyaan :
1. Ketika Yesus mati ( - menurut Alkitab/ Bibel , Yesus mati tiga hari tiga malam - ) apakah FIRMAN ikut mati ? Pertanyaan ini bukanlah tanpa dasar. Sebuah kematian tidak lain adalah kematian fisik manusia . Daging dan segala macam unsur sel dalam tubuh manusia itu mati , kecuali roh-nya yang meninggalkan diri manusia tersebut . Oleh karena “ daging “ –nya Yesus adalah wujud inkarnasi dari FIRMAN , berarti jika daging manusia Yesus mengalami kematian berarti FIRMAN ikut mati . Kalau tidak ikut mati berarti daging fisik Yesus bukanlah hasil inkarnasi dari Firman .
2. Ketika Yesus diangkat ke langit dan duduk di sebelah kanan Allah , apakah dalam keadaan fisik manusia atau kembali sebagai bentuk FIRMAN sesuai dengan konsep INKARNASI yaitu daging manusia Yesus tidak lain adalah penjelmaan dari FIRMAN ?
Hal-hal seperti ini perlu direnungkan oleh Eja Kalima . Untuk diketahui , Islam sangat menolak konsep INKARNASI . Memang INKARNASI itu merupakan bentuk kepercayaan agama pagan penyembah dewa-dewa . Sebagai contoh tentang kelahiran Kresna sebagai INKARNASI dari DEWA WISNU mirip dengan kelahiran YESUS sebagai INKARNASI dari FIRMAN . Keduanya sama-sama dikisahkan lahir dari seorang perawan tanpa adanya partisipasi manusia . Hal ini tidak aneh . Agama Kristen dan Agama Hindu menunjukkan kesamaan dalam konsep Tuhan TRINITAS. Penganut Kristen pasti menolak jika konsep TRINITAS pada agama Kristen disamakan dengan konsep TRINITAS agama Hindu dengan menunjukkan perbedaan antara TRINITAS Kristen ( - yang konsepnya masih berjumplitan antara satu sekte Kristen dengan sekte Kristen lain - ) dengan TRIMURTI Hindu . Untuk melihat kesamaan ini , jangan dibatasi pada keberadaan agama Hindu dengan konsep TRIMURTI yang dapat disaksikan sekarang ini . Apa yang kita saksikan pada agama Hindu dengan TRIMURTI- nya sekarang, yang demikian itu adalah hasil dari proses perubahan terhadap bentuk TRINITAS sebelumnya sehingga bisa saja kita melihat perbedaan dalam detailnya bila dibandingkan dengan TRINITAS Kristen. Sebelum sampai pada HINDUISME sekarang , sebelumnya rantai kepercayaan Hindu dimulai dengan : AGAMA WEDA – AGAMA BRAHMA – AGAMA UPANISHAD – AGAMA SRI KRISHNA ( AGAMA BAGHAWAD ) dan berujung kepada AGAMA HINDU yang kita saksikan sekarang dengan seluruh kepercayaannya termasuk TRIMURTI . Kita tidak akan membicarakan rantai agama Hindu keseluruhan karena bukan fokus bahasan untuk disajikan kepada Eja Kalima . Hanya akan disinggung ” AGAMA SRI KRISHNA (AGAMA BAGHAWAD ) ” dalam rangka menunjukkan kesamaan TRINITAS Kristen dengan dasar TRINITAS HINDU .
AGAMA SRI KRISHNA (AGAMA BAGHAWAD ) bergerak di luar Brahmanisme dan bersifat monotheis . Menurut Prof. Richard Garbae dalam bukunya ” Philosophy of Ancient India ” , ada lima tahapan perkembangan dari AGAMA SRI KRISHNA (AGAMA BAGHAWAD ) , yaitu [1] ) :
a. Tahap pertama , bersifat monotheis dengan ajaran yang menekankan kepada ketulusan dan melaksanakan tugas kewajiban tanpa pamrih lahiriyah. Pada tahap ini , KRISHNA dianggap sebagai NABI yang memperoleh ilham dari Tuhan untuk mengajarkan agama yang benar.
b. Tahap kedua , KRISHNA dijadikan TUHAN pasca kematiannya oleh para pengikutnya yang bodoh dan terlampau fanatik .
c. Tahap Ketiga , berlangsung Brahmanisasi atas AGAMA SRI KRISHNA (AGAMA BAGHAWAD ) . Agama yang tadinya berkeimanan monotheis berkombinasi dengan ajaran Weda tentang WISHNU NARAYANA , yang berperan dalam menciptakan TUHAN AJARAN WEDA dan KRISHNA dijadikan Tuhan dan dikenal sebagai WISHNU NARAYANA sebagai INKARNASI dari Dewa Wishnu .
d. Tahap keempat , terbentuknya DOKTRIN TRINITAS yang merupakan kesatuan dari BRAHMA - WISHNU – SHIWA sebagai penghargaan terhadap TUHAN WISHNU. Dan ditetapkan penjelmaan WISHNU dalam diri manusia terwujud sebagai KRISHNA dan RAMA . Kitab BAGHAWAD GITA muncul pada tahap keempat ini .
e. Tahap kelima, terbangunnya ajaran WEDA oleh RAMANUJA, tokoh modifikasi Monoisme . Kitab Weda mengalami perubahan dan interpolasi yang sangat besar sebelum memperoleh bentuknya sekarang ini dan menyatu dalam epos Hindu : MAHABHARATA .
Perkembangan AGAMA SRI KRISHNA (AGAMA BAGHAWAD ) sebagai agama monotheis menjadi politheistik ini identik dengan perkembangan ajaran Yesus Kristus. Pada mulanya, Yesus sebagai seorang Nabi/Rasul Allah membawa ajaran monotheis mutlak. Tidak ada satupun dalam Perjanjian Baru yang mengungkap adanya klaim Yesus bahwa dirinya adalah TUHAN yang harud disembah. Tetapi pada proses perkembangan selanjutnya , Yesus dijadikan TUHAN oleh mereka yang mengaku diri sebagai “ PENGIKUT YESUS KRISTUS “. Dan pelantikan Yesus sebagai Tuhan benar-benar dilakukan dalam KONSILI NICEAE pada tahun 325. Ini menunjukkan dimulainya proses HELENISASI atas ajaran Yesus Kristus dan Yesus dinyatakan sebagai INKARNASI DARI FIRMAN. Dan akhirnya kitab suci agama Kristen mengalami perubahan dan interpolasi yang luar biasa .
Ada kesamaan yang luar biasa antara dogma Kristen sekarang dengan ajaran Hindu sekalipun banyak penganut Kristen yang menolaknya tanpa melihat basis awal dari agama Hindu itu sendiri. Kisah Yesus sepertinya menjadi duplikasi dari kisah Kresna . Diceritakan dalam tradisi Hindu, Kresna adalah inkarnasi dari DEWA WISHNU yang lahir dari perawan bernama DEVANAKI, yang hamil oleh DEWA BRAHMA . Ini persis sama dengan dogma Kristen , Yesus adalah inkarnasi dari FIRMAN , yang lahir dari perawan MARYAM , yang hamil oleh BAPA melalui ROH KUDUS. Juga dalam tradisi Hindu, KRESNA datang dan menjadi korban untuk penebus manusia . Ini persis dengan dogma Kristen , Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia . Dan ternyata dalam tradisi Hindu dipercaya TUHAN TRITUNGGAL, dan dogma Kristen juga mengenal TUHAN TRINITAS. Oleh karena itu, sangat benar tulisan Malvier , seorang pakar Bibel dalam tulisannya yang diterbitkan di Paris tahun 1895 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab tahun 1912 dengan judul ”Nakhlat Syafwat ” yang menegaskan kesamaan dasar ajaran Trinitas dengan ajaran Hindu Kuno. Marvier menulis [2] ):
Dalam kitab-kitab agama Hindu Kuno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris mengenai sekitar akidah Hindu Kuno, disebutkan sebagai berikut :
Kami percaya pada SAFESTRAI yakni Matahari , Tuhan bagi semuanya , yang menciptakan langit dan bumi . Putra satu-satunya AGNY yakni Api adalah cahaya yang luar biasa , yang menyamai Sang Bapa dalam substansinya. Kami juga percaya kepada FAYO yakni RUH YANG KELUAR dari Sang Bapa dan Sang Putera dan yang bersama keduanya , DIA disembah serta dimuliakan .
Ketiga Oknum yang langgeng tersebut , yakni SAFESTRAI , Sang Bapa langit , AGNY , Sang Putera yang merupakan api yang keluar dari matahari dan FAYO yang merupakan tiupan udara atau RUH , adalah dasar aliran-aliran bagi bangsa Arya , yaitu Hindu Kuno .
Menutup bahasan point ini , perlu dikonfirmasi yaitu apa yang dimaksud dengan : Sang Anak “ yang dilahirkan spiritual dalam Roh Kudus “ dalam pernyataannya tersebut ?
Inti pertanyaannya berfokus pada “ yang dilahirkan ............. dalam Roh Kudus “ bukan “ yang dilahirkan spiritual ........ “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar