Senin, 09 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN

MASALAH FIRMAN ALLAH DAN ROH KUDUS
  
SIAPAKAH FIRMAN ALLAH YANG DITURUNKAN
KE DUNIA ITU ,  YESUS ATAU AL QURAN ? (3)

SUBYEK  TELAH MENJADI  OBYEK BAGI  “ KALIMAT ALLAH “

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :

Eja Kalima memberi pernyataan  :

Para penafsir Quran yang memaknakan SUBYEK menjadi OBYEK bagi  “ KALIMAT ALLAH “ (sebagai akibat dari KALIMAT ALLAH yang berfirman “JADILAH “) akan menemui kesulitan oleh kenyataan bahwa KALIMAT ALLAH adalah juga AL QURAN yang diturunkan ke dunia . Apakah AL QURAN dapat sama  dengan  ISA : akibat dari kalimat “ JADILAH “?

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :

Sekali lagi, pemahaman atas ayat Qs. 4 : 171 bukan hasil penafsiran kaum  Muslimin melainkan karena memang demikianlah yang ditegaskan oleh ayat Qs.  4 : 171 . Perlu dijelaskan di sini , TIDAK ADA KESULITAN YANG AKAN DITEMUI OLEH PARA PENAFSIR AL QUR’AN SEHUBUNGAN DENGAN DIKATAKAN AL QUR’AN ADALAH KALIMAH ALLAH KETIKA DI SISI LAIN DIKATAKAN ISA ALMASIH ADALAH KALIMAH ALLAH  ( dalam pengertian sebagai produk dari kalimat ” Kun ” ) SEHINGGA TIDAK PERLU DISIMPULKAN : AL QUR’AN DAPAT SAMA DENGAN ISA. Menyatakan adanya kesulitan seperti yang dikatakan Eja Kalima sesungguhnya tidak lebih dari khayalan Eja Kalima sendiri. Dalam Al Qur’an kata ” KALIMAH ” mempunyai banyak makna . Oleh karena itu pernyataan Eja Kalima : ” Para penafsir Quran yang memaknakan SUBYEK menjadi OBYEK bagi  “ KALIMAT ALLAH “ ( sebagai akibat dari KALIMAT ALLAH yang ber-firman “JADILAH “ ) akan menemui kesulitan oleh kenyataan bahwa KALIMAT ALLAH adalah juga AL QURAN yang diturunkan ke dunia. Apakah AL QURAN dapat sama  dengan ISA : akibat dari kalimat “ JADILAH “ ? ” sebenarnya muncul KARENA EJA KALIMA TIDAK MEMAHAMI ARTI ’ KALIMAT ” DALAM AL QUR’AN. Untuk itu, berikut ini disajikan beberapa pengertian ” KALIMAH ” menurut Al Qur’an untuk diketahui oleh Eja Kalima dan penganut Kristen pada umumnya sebelum menyajikan pernyataannya tersebut .
Dalam ayat An Nisaa’ 171 , dikatakan  Isa Al Masih as adalah “ Kalimatuhu “ ( Kalimat-Nya ) atau dalam ayat Ali ‘Imran 45 : “ Kalimati (n)mminhu “ ( Kalimat dari-Nya ). Menjadi pertanyaan pula, apa yang dimaksud dengan kata “ Kalimat “ pada kata-kata tersebut ? Menjawab pertanyaan ini, sangatlah tidak tepat bagi penganut Kristen dengan menunjuk Bibel, ayat Yahya 1 : 1 yang Hellenistic sebagai penjelasan , melainkan harus dikembalikan kepada ayat-ayat Al Qur’an itu sendiri. Pemahaman atas kata “ Kalimat “ bergantung pada penggunaan kata tersebut dalam ayat-ayat Al Qur’an , sedangkan merujukkannya kepada ayat Yahya 1 : 1 merupakan langkah yang konyol sebab ayat Al Qur’an bukanlah ayat Bibel ! Penganut Kristen tidak percaya dengan ayat-ayat Al Qur’an sebagai wahyu Allah. Lalu bagaimana mereka menggunakan ayat Al Qur’an untuk membenarkan kepercayaan Kristen walaupun dengan cara menerapkan ayat Bibel atas ayat-ayat Al Qur’an tersebut ?
Berikut ini disajikan makna “ Kalimat “ pada berbagai ayat Al Qur’an. Terjemahan yang disajikan diambil dari terjemahan tafsir  “ Al Qur’an Dan Terjemahnya “ Departemen Agama RI , dengan sedikit perubahan yaitu kata “ kalimat “ tetap dipertahankan dalam terjemahan yang disajikan .

1.      Kalimat “ adalah Do’a Taubat .

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya , maka Allah menerima taubatnya . Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (  Al Baqarah  37  )

Dalam ayat ini dikatakan : “ Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya  lalu  lanjutannya dikatakan : “ maka Allah menerima taubatnya “ . Apa yang disimpulkan dari kedua pernyataan ini ? Rupanya Adam menerima ajaran dari Allah bagaimana do’a taubat yang harus dipanjatkan untuk kesalahan yang dilakukan ,  kemudian dilaksanakan oleh Adam dan Allah SWT menerima taubatnya . Dan berkaitan dengan taubatnya Adam dan Hawa ini , diungkapkan dalam  ayat Al A’raaf 23  :

       Keduanya berkata : “ Ya Tuhan kami , kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami , niscaya pastilah kami termasuk orang yang merugi “

Satu bentuk “ ratapan “seorang hamba kepada Al Khaliq lantaran dosa yang dilakukan . Dan itulah yang dilakukan oleh Adam dan Hawa . Allah SWT meng-ampuni dosanya . Hal ini ditegaskan dalam surah Thaa-haa 122 :

       Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.

Dengan demikian pengertian dari “ Kalimat “ dalam ayat Al Baqarah 37 : “ Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya  adalah  DO’A TAUBAT “.

2.      Kalimat “ adalah Kalimat Tauhid : Laa ilaaha illallah

Katakan , Hai Ahli Kitab , marilah ( berpegang ) kepada kalimat yang tidak ada peselisihan
antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak ( pula ) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah . Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka : “ Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri ( kepada Allah ) “ . ( Ali ‘Imran 64  )

Pernyataan  kalimatin sawaa-i(n)mm baynanaa wa baynakum “ (  kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu ), yang kemudian dilanjuti dengan penjelasan risalah tauhid  yang menjadi dasar Islam : “ allaa na’buda illallaaha wa laa nusyrika bihi “ ( tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun ) dan “ wala yattakhiza ba’dunaa ba’dan arbaa-bam mindunillahi “ ( tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah  ) menunjukkan bahwa kata “ Kalimat “ yang disebut dalam ayat ini tidak lain adalah kalimat Tauhid : LAA ILAAHA ILLALLAH , yang implementasi akidahnya  adalah  hanya  menyembah  Allah  SWT yang Esa  secara mutlak baik substansi-Nya maupun sifat-Nya , bukan Esa dalam konsep Trinitas.
Ungkapan “ kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu “ tergambar dari penegasan tauhid dalam surah Al Ikhlas: “ Katakanlah Allah itu Esa  yang sama dengan ajaran Musa yang masih tersisa dalam Bibel : “ Syema Yesrael , Yahwe Elohonu Yahwe Ehad “ ( Dengarlah hai Israel , Tuhan Allahmu adalah Tuhan yang Esa ) [1] ). Baca pula dibaca ayat Az Zukhruf 28 yang memberikan makna “ kalimat “ sebagai kalimat tauhid  :

Dan ( Ibrahim ) menjadikan kalimat itu ( kalimat yang ) kekal pada keturunannya supaya mereka kembali ( kepada kalimat  itu )
 
Pemaknaan “ Kalimat “ sebagai kalimat tauhid : Laa ilaaha illallah pada ayat Az Zukhruf 28 ini , tidak salah karena pada ayat sebelumnya yang mendahului yaitu ayat Az Zukhruf 27 ditegaskan : “ … Tetapi ( aku menyembah ) Tuhan yang menjadikanku , karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku “. Ungkapan “ Tuhan yang menjadikanku  “ dan “sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku “ merupakan statemen dan kesaksian ketauhidan . Dan Ibrahim mengajarkan ketauhidan kepada anak-anaknya dan selanjutnya turun temurun untuk tetap dipertahankan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan hal ini, misalnya Nabi Yakub as. betapa sebelum ajal datang, mengumpulkan anak-anaknya dan meminta mempertahankan ketauhidan kepada Allah SWT. 
Makna “ Kalimat “ sebagai kalimat tauhid juga dapat dilihat pada ayat Al Fath 26 :

       Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan ( yaitu ) kesombongan jahiliyah , lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Rasul-Nya dan kepada orang-orang Mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka : kalimat taqwa dan adalah berhak dengannya ( kalimat taqwa itu ) dan patut memilikinya . Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

Dalam ayat ini disebutkan :  Kalimat Taqwa “ yang ditafsirkan dengan “ kalimat tauhid “ dan “ memurnikan ketaatan kepada Allah SWT ” ( Al Qur’an Dan Terjemahnya , Dep. Agama RI )

3.      Kalimat “ adalah Janji-Janji Allah .

Dan sesungguhnya telah didustakan ( pula ) rasul-rasul sebelum kamu , akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan ( yang dilaku kan ) terhadap mereka sampai datang  pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.  ( Al An-aam  34  )

Ayat ini berbicara tentang keadaan rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw yang mengalami pendustaan dan penganiayaan kaumnya  sehingga datang pertolongan Allah kepada rasul-rasul tersebut . Kemudian berlanjut pada pernyataan : “Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah  “.  Pernyataan ini terkait dengan  sampai datang pertolongan Kami kepada mereka “. Dalam hubungan ini , maka makna “ kalimat “ dalam ayat ini adalah “ janji-janji Allah “ atau boleh juga bermakna “ ketetapan Allah “ untuk memberikan pertolongan kepada para rasul Allah ketika menghadapi tantangan, pendustaan, dan pengania-yaan kaumnya pada saat menyampaikan risalah Tuhannya. Oleh karena itu, terjemahan yang diberikan dalam “ Al Qur’an dan Terjemahnya “ Dep.Agama RI , ditulis : “  Tak ada seorang-pun yang dapat merobah kalimat-kalimat ( janji-janji ) Allah  “. Makna “ kalimat Allah “ sebagai     janji-janji Allah “ juga ada dalam ayat Yunus 64: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar