Jumat, 06 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN

ALLAH AL QUR'AN DAN " ALLAH " ALKITAB (6)
MENGAPA UMMAT ISLAM MENGGANTI NAMA ” YAHWE ” DENGAN NAMA ” ALLAH  ” ?

SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN
Eja Kalima berkata :

Jadi orang-orang Kristen malahan bertanya-tanya kepada teman-teman Muslim, dari mana dan kenapa nama Yahweh yang sudah diperkenalkan sendiri oleh Tuhan selama beribu-ribu tahun itu ( Keluaran 3: 13-15 ) kini tiba-tiba menjadi perlu diganti menjadi nama ALLAH ( “ siapanya “ ) tetapi tanpa diperkenalkan “ apa ”-nya ?  Bukankah Allah yang menurunkan wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai “ Rabb “ (Tuhan) lalu tiba-tiba disebut juga dengan       “ ALLAH “ tanpa penjelasan ?

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :

Mengapa harus bertanya-tanya ? Ummat Islam berdasarkan Al Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad saw tidak pernah mengenal  “ YAHWE “ sebagai nama Tuhan , apalagi sebagai nama yang tidak berani disebut . Lalu sekarang mempertanyakan kepada ummat Islam  “ ..... dari mana dan kenapa nama Yahweh yang sudah diperkenalkan sendiri oleh Tuhan selama beribu-ribu tahun itu ( Keluaran 3: 13-15 ) kini tiba-tiba menjadi perlu diganti menjadi nama ALLAH ........ “ . Aneh sekali ! Justru yang benar dan paling tepat, kami Ummat Islam-lah yang perlu mempertanyakan : “ Mengapa teman-teman dari penganut Kristen mencopet nama “ ALLAH “ yang berciri Islam dan menjadi nama diri dari SANG MAHA PENCIPTA untuk menggantikan “ YAHWE “ yang katanya menjadi nama Tuhan orang Kristen tapi orang Kristen takut menyebutnya ? “.  Aneh dan lucu , nama Tuhannya sendiri takut disebut lalu mengambil nama “ ALLAH “ dalam Islam sebagai gantinya , lalu memprotes ummat Islam dengan tuduhan ummat Islam mengganti nama YAHWE dengan nama ALLAH ketika di sisi lain ummat Islam tidak tahu menahu dengan nama YAHWE , apalagi menggantikan nama yang tidak berani disebut itu. Eja Kalima telah menunjukkan ketidak-warasan yang luar biasa , yang tidak layak disajikan dalam jamuan yang diadakannya. Ketidak warasan pernyataan seperti ini memang sering dimunculkan penganut Kristen jika berdialog dengan ummat Islam.
Juga pertanyaan Eja Kalima : ”  Bukankah Allah yang menurunkan wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai “ Rabb “ ( Tuhan) lalu tiba-tiba disebut juga dengan “ ALLAH “ tanpa penjelasan ?   sangat aneh dan menunjukkan kebingungannya .  Dari mana Eja Kalima tahu bahwa Allah yang menurunkan wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai “ Rabb “ ( Tuhan ) ?.  Sebutan “RABB “ menunjukkan bahwa ALLAH – nama diri dari Tuhan – menjadi pelindung , pemelihara , pengajar dan semacamnya bagi segala makhluq-Nya . Di sanalah tempat manusia mengantungkan harapannya dan berdo’a , bukan kepada Yesus Kristus, yang secara bodoh dijadikan tuhan oleh penganut Kristen . Kemudian  “ ALLAH “ adalah nama diri bagi TUHAN YANG MAHA PENCIPTA .  Jadi mengatakan bahwa   Allah yang menurunkan wahyu Quran awal-awal di Mekah hanya disebut sebagai “ Rabb “ ( Tuhan) ” merupakan pernyataan yang tidak ada asal-usulnya , dan dikemukakan asal ucap semata-mata .
Keanehan lain dari pernyataan Eja Kalima tersebut adalah mempertanyakan disebutnya nama Allah tanpa penjelasan. Penjelasan model apa ? Kalau yang ditanyakan adalah penjelasan tentang “struktur tubuh“ Allah, maka kami ummat Islam tidak berhajat untuk memberi penjelasan yang demikian karena Allah bukanlah makhluk yang bisa “ dibedah “ seperti membedah struktur tubuh ikan dalam laboratorium untuk menjawab “ apa “-nya Tuhan . Tidak ada yang semisal dengan Allah. Tetapi kalau penjelasan tentang Allah berkenaan dengan  siapa “-nya , bukan “ apa “-nya maka Al Qur’an sangat tegas memberi penjelasan: ALLAH ADALAH TUHAN YANG MAHA ESA, TIDAK BERANAK DAN TIDAK DIPERANAKKAN, TEMPAT BERMOHON DAN MENGADUKAN MASALAH, MAHA PENCIPTA , TIDAK ADA YANG SETARA DENGANNYA , TIDAK BERSEKUTU DAN TIDAK TERBAGI-BAGI SEPERTI KUE DONAT dan sebagai-sebagainya. Lalu apanya  yang “ tanpa penjelasan “ yang dikatakan Eja Kalima itu?


P E N U T U P

Kamil Mukamil, apologist Kristen dalam bukunya “ Diskusi Ismael – Ishak “ menulis [1]) :

Banyak teman-teman Muslim beranggapan bahwa ” ALLAH ” adalah nama pribadi Allah sendiri yang diwahyukan kepada Muhammad . Namun mereka lupa bahwa jauh sebelum kedatangan Muhammad , penduduk Mekah telah mempunyai salah satu nama terhadap dewanya bernama AL- ILAH ( yang disembah ) . Dan ayah Muhammad sendiri bernama ABDULLAH  ( Abd- Allah , hamba Allah ; Allah yang tentunya berbeda dengan Allah SWT ). Namun penyangkalan yang paling kuat adalah bersumber dari Alkitab . Sebab, bilamana nama diri-nya betul : ALLAH , maka Dia sudah harus dipanggil persis demikian oleh setiap nabi dalam, Alkitab , tidak bisa ditawar dan diganti dengan “ ELOHIM “ atau YAHWEH seperti yang terjadi .

Ummat Islam (Kaum Muslimin) tidak pernah beranggapan melainkan memastikan bahwa “ ALLAH “ adalan nama diri dari TUHAN . Begitu pula , mengatakan  AL-ILAH ( yang disembah ) “ sebagai salah satu dewa ( -maksudnya : BERHALA-)  yang disembah oleh penduduk Makkah (– maksudnya : Kaum kafir Quraisy Makkah - ) merupakan satu kengawuran , satu kebodohan dan ketidak-tahuan yang didemonstrasikan dengan baik oleh Kamil Mukamil. Mengapa demikian  karena tidak ada “dewa “ ( berhala ) sesembahan orang-orang Arab bernama : “ AL ILAH “ seperti yang dikatakan Kamil Mukamil . Sebaiknya kalau memang tidak tahu tentang sejarah agama orang-orang Arab kafir Quraisy dan orang-orang Arab kafir pada umumnya tidak usah memberi komentar , supaya tidak memberi pernyataan ngawur dan bodoh seperti itu . Galilah informasi tentang masalah ini dari sumber Islam secara langsung , jangan hanya mengutip dari para Orientalis atau orang-orang Kristen yang tidak jujur terhadap Islam  seperti dalam Encyclopedia of Islam yang dieditori oleh H.A.R.Gibb dan dikutip kembali oleh Dr.Robert A. Morey dalam bukunya : “ THE ISLAMIC INVANSION “ [2] ) :

“ ALLAH “ sudah dikenal oleh bangsa-bangsa Arab pada zaman sebelum Islam . Dia merupakan salah satu dewanya orang-orang kota Makkah .

Kembali kepada pernyataan Kamil Mukamil tentang  ” AL ILAH “ sebagai salah satu “ dewa “( berhala ) sesembahan kaum kafir Quraisy Makkah , mungkin sekali Kamil Mukamil bersumber kepada tulisan Orientalis yang mendasarkan pada ayat Al Qur’an  Qs. 53 : 19-20  : “  Maka apakah patut kamu ( hai orang-orang musyrik) mengaggap al Lata dan al Uzza, dan Manaata yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah) ? “ . Pada ayat Qs. 53 : 19-20 ,  disebut nama salah satu “ dewa “ ( berhala ) orang-orang Arab Quraisy yaitu : “  AL LATA “ ( bentuk Arab Al Qur’an  :   ﺍﻟﻠﺖ  ).  Ini berbeda dengan “ ALLAH  ( bentuk  Arab Al Qur’an :  ﺍﻟﻠﻪ ) atau  dengan  “ AL ILAH  “ ( - yang menurut sebagian kecil pakar bahasa Arab sebagai asal dari kata “ ALLAH “- ) dengan bentuk Arab Al Qur’an : ﺍﻝﺍﻟﻪ. Dengan perbedaan ini lalu atas dasar apa sehingga si Apologist Kristen Kamil Mukamil mengatakan bahwa  Al – Ilah “ adalah nama salah satu “ dewa “ ( berhala ) penduduk Makkah ? Itulah kebodohan dan kengawuran yang didemonstrasikan  si Apologist  Kristen bernama     “ Kamil Mukamil “ ( - mungkin nama samaran - ) .  
Oleh karena itu, adanya penyebutan “ABDULLAH “ bukan menunjukkan adanya nama dewa ( berhala ) melainkan justru menunjukkan pengakuan kepada ALLAH , nama dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Esa  .
Menurut si Apologist Kristen Kamil Mukamil bahwa penyangkalan terhadap ALLAH sebagai NAMA TUHAN YANG MAHA ESA adalah  bersumber dari Alkitab . Sebab, bilamana nama diri-nya betul : ALLAH , maka Dia sudah harus dipanggil persis demikian oleh setiap nabi dalam, Alkitab , tidak bisa ditawar dan diganti dengan   “ ELOHIM “ atau YAHWEH seperti yang terjadi  “.  Mengenai nama “ ELOHIM “ dan “ YAHWE “ ini telah dibahas di muka . Dan yang perlu disadari oleh si Apologist Kristen Kami Mukamil ini , justru Alkitab/Bibel yang diterbitkan LAI Jakarta , menegaskan bahwa NAMA TUHAN adalah ALLAH  ( ayat Amos 5 : 27 ).  Untuk  pernyataannya  tersebut , si Apologist  Kristen Kamil  Mukamil  memberi  catatan kaki  :

Jikalau “ ALLAH “ adalah nama hakiki Allah , maka orang Yahudi malahan beralasan memprotes balik kenapa justru Tuhan-nya Abraham dan Musa dinamai  “ ALLAH “ dan bukan tetap disebut sebagai “ YAHWE-ELOHIM “.  Di sisi lain , pandangan teman-teman Muslim di atas , juga menemukan kerancuan karena dalam pengertian Islam , malahan terdapat penekanan bahwa ALLAH adalah berbeda dari segala sesuatu yang dapat kita katakan atau samakan tentang Dia .

Apa hak orang Yahudi untuk memprotes tentang nama Tuhan yang diyakini oleh ummat Islam ?  Yang demikian hanya khayalan si Apologist Kristen Kamil Mukamil semata . Kalau memang ada prostes dari Kaum Yahudi tentang penggunaan kata “ ALLAH “ sebagai nama hakiki dari TUHAN YANG MAHA ESA , maka yang lebih tepat adalah memprotes orang-orang Kristen di negara-negara mayoritas Muslim yang mengguna-kan kata “ ALLAH “ sebagai NAMA HAKIKI DARI TUHAN SEMESTA ALAM  seperti yang tercantum dalam ayat Amos 5 : 27 ” … demikianlah firman Tuhan, yang bernama Allah semesta alam sekalian “. Perhatikan ! Alkitab/Bibel sendiri mengatakan bahwa Tuhan itu bernama : ALLAH . Sebaiknya penganut Kristen tidak perlu mengada-ada dan memprotes tentang kata  “ALLAH “ sebagai nama Tuhan Yang Maha Kuasa karena pada kenyataannya justru kata ” ALLAH ’ dipakai juga dalam Alkitab/Bibel . Dan sebenarnya sI Apologist Kristen Kamil Mukamil tidak perlu repot-repot dengan mempermasalahkan kata ” ALLAH ” sebagai nama Tuhan menurut Islam , karena padanannya dalam bahasa Aramia adalah ” ELOAH ” , bentuk kata yang bunyinya mirip sama dengan ” ALLAH ” . Disarankan kepada semua penganut Kristen yang  berminat menyerang Islam dan ajarannya , pelajarilah langsung dari sumber Islam, jangan hanya membeo pada tulisan Orientalis  karena para Orientalis itu sudah menyimpangkan begitu banyak hal yang terkait dengan Islam . Kajian-kajian atas nama ” ILMIAH ” disorakkan ke sana ke mari , tetapi justru sebenarnya adalan memberikan informasi penyesatan tehadap sumber-sumber Al  Qur’an . Dan orangpun seperti Eja Kalima dan si Apologist Kristen Kamil Mukamil mengagungkan mereka sebagai OBYEKTIF dan BEROTORITAS ILMIAH. Mengapa tidak mengkaji langsung kepada tulisan para ahli dan ulama dari kalangan Islam tetapi lari ke para Orientalis dan menjadikan pendapat mereka sebagai rujukan padahal pernyataan mereka sudah banyak palsunya ?  Roger Graudy , filosof Perancis akhir abad 20 ini – sebagaimana dikutip oleh Muhsin Al Mayli - mengatakan [3] ):

Kaum  Orientalis  tidak  mempelajari Islam  karena  Islam itu sendiri , tetapi mempelajarinya
untuk digunakan dalam pertarungan-pertarungan ideologi dan peperangan-peperangan . Karena itu , di samping bentuk akademis berbau universitas yang dilakukan oleh beberapa pengkajian kaum Orientalis ( - karena keoputusan sebelumnya dan tujuan-tujuan ideologis yang tidak ilmiah - )  mereka sesungguhnya membuat penghalang-penghalang antara mereka dengan topik-topik pembahasan mereka , yang menghambat mereka untuk memehamai dan mengetahui Islam dengan baik

Jika kajian para Orientalis terhadap Islam didasarkan pada motif-motif untuk meme-nangkan pertarungan ideologis  ( - selaku penganut Kristen ) melawan Islam , tentu bisa dipastikan tingkat kebenaran kajian yang diberikan para Orientalis tentang Islam . Lalu kebenaran apa yang dapat dicapai tentang Islam dengan mengandalkan karangan para Orientalis tersebut ?



[1] ).  Kamil Mukamil , Diskusi Ismael – Ishak  , hal. 65  
[2] ).   Dr. Robert A. Morey , Islamic Invansion , ( ed. terjemahan bhs. Indonesia , hal. 246 )
[3] ).  Dr. Muhsin Al- Mayli , Pergulatan Mencari Islam , Perjalanan Religius  Roger Graudy , hal. 196 . Roger Graudy  adalah seorang penganut Kristen Protestan Perancis tetapi berkiprah dalam Partai Komunis Perancis. Ayahnya seorang atheis . Tentu tidak lazim , seorang penganut agama justru menjadi tokoh pimpinan partai yang anti agama . Ketidak-laziman ini bukan dalam rangkaian petualangannya tetapi didasarkan pandangan filsafatnya. Dalam pencarian kebenaran agama, akhirnya Roder Graudy , yang Kristen Protestan tetapi Komunis itu  beralih menjadi pemeluk agama Islam . Sebuah perjalanan panjang mencapai sebuah kebenaran .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar