MASAKAN ALLAH PUNYA ” ANAK ALLAH ” (4)
ALLAH MEMPUNYAI ANAK BUKAN DALAM MAKNA BIOLOGIS
SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN :
Eja Kalima memberi pernyataan berikut :
Dalam Quran , puncak komunikasi antara Allah dan umatNya adalah tetap dengan menampilkan seorang manusia Muhammad yang tetap berfungsi-utama sebagai nabi untuk memberitakan Firman Tuhan . Namun dalam Alkitab , pada puncak komunikasiNya , Nabi yang diutus adalah SANG FIRMAN ( SANG KALIMAT ) yang senantiasa berwahyu bukan seperti nabi lainnya yang ada kalanya menerima wahyu dan ada saat lainnya tidak meyampaikan wahyu . Lebih dari itu SANG FIRMAN kini harus bertindak dalam rancangan penyelamatan manusia yang final , bukan hanya sebagi PEMBERITA FIRMAN !
Ilustrasi Tiongkok tepat menggambarkan beda antara guru-guru biasa ( yang memberita )
dibandingkan dengan SANG GURU ( yang menyelamatkan ) :
Ketika seorang muridnya jatuh ke dalam sebuah sumur yang dalam , seorang guru biasa berseru-seru ke bawah dari pinggiran sumur , meng-ajarkan apa-apa yang harus diperbuat oleh si murid agar dapat keluar dari sumur tersebut dengan selamat . Ia hanya dapat berbuat terbatas begitu . Tetapi seorang Sang Guru bukan hanya berseru-seru dari atas sumur melainkan ia menerjunkan dirinya sendiri ke bawah demi menolong dan mengangkat muridnya keluar dari sumur tersebut , yang tidak kuasa dilakukan oleh murid itu sendiri .
Itulah yang terjadi dengan SANG NABI PALING AKHIR , SANG KALIMAT . Anak Allah sendiri yang bernama YESUS seperti yang dikatakan dalam Kitab Ibrani :
Setelah pada jaman dahulu , Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan PERANTARAAN NABI-NABI maka pada zaman akhir ini IA TELAH BERBICARA KEPADA KITA DENGAN PERANTARAAN ANAKNYA ……. Oleh Dia, Allah tetap menjadi-kan alam semesta . Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan FirmanNya … ( Ibr. 1 : 1-3 )
SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :
Eja Kalima mencoba menunjukkan kepintarannya tentang Islam dengan berkata : “ Dalam Quran , puncak komunikasi antara Allah dan umatNya adalah tetap dengan menampilkan seorang manusia Muhammad yang tetap berfungsi-utama sebagai nabi untuk memberitakan Firman Tuhan “. Kalau tidak tahu tentang Islam lebih baik diam dari pada menyajikan pernyataan yang ngawur tentang Islam .
Komunikasi Allah dengan ummat-Nya selalu berlangsung dengan diutusnya para Nabi/Rasul Allah dan diakhiri dengan diutusnya Nabi Muhammad saw selaku NABI TERAKHIR atau NABI PENUTUP dalam fungsinya sebagai NABI AKHIR ZAMAN . Perlu diketahui Eja Kalima , komunikasi Allah dengan ummat-Nya tidak berhenti dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW , sebab KITAB SUCI AL QUR’AN menjadi sarana komunikasi bagi ummat-Nya terhadap Allah , Tuhan Yang Maha Esa . Dalam hal ini tidak ada istilah “ PUNCAK KOMUNIKASI “ melainkan KOMUNIKASI YANG TERUS BERLANGSUNG manusia dengan Allah , Tuhan Yang Maha Esa yang dengan sarana Al Qur’an dan Hadist . Fungsi utama seorang Nabi/Rasul Allah adalah menyampaikan wahyu Allah yang diterimanya kepada ummat manusia/ kaumnya. Dan itu pula yang dilakukan Yesus ( Nabi Isa Al Masih as ). Oleh karena itu , sangatlah mengherankan pernyataan Eja Kalima : “ Namun dalam Alkitab , pada puncak komunikasiNya , Nabi yang diutus adalah SANG FIRMAN ( SANG KALIMAT ) yang senantiasa berwahyu bukan seperti nabi lainnya yang ada kalanya menerima wahyu dan ada saat lainnya tidak menyampaikan wahyu “. Bagaimana bisa dikatakan “SANG FIRMAN ( SANG KALIMAT ) yang senantiasa berwahyu bukan seperti nabi lainnya “ padahal Yesus yang dikatakan sebagai “ SANG FIRMAN “ sudah mati – yang menurut kepercayaan Kristen : dikuburkan tiga hari tiga malam lalu bangkit kembali - dan sekarang tengah duduk-duduk santai di samping BAPA di “ langit “ dan tidak memiliki aktivitas lagi ? Dan bagaimana Eja Kalima bisa berkata : “ SANG FIRMAN ( SANG KALIMAT ) yang senantiasa berwahyu bukan seperti nabi lainnya “ padahal sebelum “ pergi “-nya , Yesus mengakui bahwa masih banyak yang harus disampaikannya ? Perhatikan ayat Alkitab/Bibel berikut :
Banyak lagi perkara yang aku hendak kepadamu tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia ( Yahya 16 : 12 )
Masih banyak perkara yang belum disampaikan Yesus kepada muridnya. Itulah inti dari ayat Yahya 16 : 12 yang dikutipkan di atas . Dengan fakta ayat Alkitab/Bibel ini , lalu bagaimana Eja Kalima bisa berkata “ SANG FIRMAN ( SANG KALIMAT ) yang senantiasa berwahyu “ ? Nyatalah pernyataan Eja Kalima ini lebih didasarkan pada dogma Kristen yang dianutnya daripada didasarkan pada ayat-ayat Bibel yang seharusnya menjadidasar dari pernyataan tersebut . Dan juga fakta ayat ini telah membatalkan pernyataan Eja Kalima yang hendak mengedepan-kan betapa ” hebatnya ” TUHAN ALKITAB ketika berwahyu kepada ummat-Nya ketika di sisi lain justru Yesus masih meninggalkan begitu banyak perkara dan belum disampaikannya. Konsekwensi logis dengan masih banyaknya perkara yang belum disampaikan oleh Yesus , dibutuhkan seorang Nabi/Rasul Allah berikutnya yang akan melanjutkan misi ajaran Yesus tersebut . Lalu bagaimana Eja Kalima bisa berkata : ” Itulah yang terjadi dengan SANG NABI PALING AKHIR , SANG KALIMAT . Anak Allah sendiri yang bernama YESUS ” ?. Dan berkaitan dengan ayat Ibrani 1 : 1-3 yang dirujuk Eja Kalima sebagai dalil tentang Yesus sebagai SANG NABI PALING AKHIR , berikut dikutipkan lengkap ayat Ibrani 1 : 1-3 tersebut berdasarkan Alkitab LAI 1968 sebagai berikut :
Setelah sudah Allah berfirman pada zaman dahulu kala kepada segala nenek mpyang kirta dengan lidah nabi-nabi beberapa kali dan atas berbagai peri, maka berfirmanlah Ia pula pada akhirnya kepada kita di dalam Anaknya, yang ditetapkannya menjadi waris segala sesuatu . Olehnya juga dijadikannya sekalian alam .
Maka Ia-lah menjadi cahaya kemuliaan Allah dan zat Allah yang kelihatan serta Ia menanggung segala sesuatu dengan firman kuasanya; dan setelah Ia membuat persucian segala dosa maka duduklah Ia disebelah kanan yang Maha Besar di dalam ketinggian .
Mari kita bandingkan dengan kutipan ayat Ibrani 1 : 1-3 yang dikutipkan Eja Kalima. Rupanya kutipan ayat Ibrani 1 : 1-3 yang ditampilkan Eja Kalima , paling tidak berdasarkan Alkitab LAI 1976 sd. 2000.
Pertanyaan pokok dan sangat penting , adakah dalam ayat Ibrani 1 : 1-3 itu , baik versi Alkitab LAI 1968 ataupun versi Alkitab LAI 1976 sd. 2000 yang menegaskan bahwa Yesus adalah SANG NABI PALING AKHIR , SANG KALIMAT . Anak Allah sendiri sebagaimana yang dikatakan Eja Kalima ? Tidak ada satu petilan kalimat pun dalam ayat itu yang mengarahkan pengertian seperti itu . Jadi mengatakan Yesus adalah SANG NABI PALING AKHIR , SANG KALIMAT dengan merujuk pada ayat Ibrani 1 : 1-3 , tidak lain adalah produk penafsiran dogmatis Kekristenan semata-mata , bukan berdasarkan ayat-ayat Alkitab /Bibel itu sendiri. Jelas sekali , ini menjadi fakta betapa dogma Kekristen yang dianut menentukan makna sebuah ayat , dan bukannya ayat melahirkan dogma Kekristenan .
Selanjutnya ada yang menarik dari ayat Ibrani 1 : 1-3 yang dirujuk Eja Kalima yaitu menurut versi Alkitab LAI 1968 dikatakan, YESUS MENJADI .... ZAT ALLAH , sedangkan menurut versi kutipan Eja Kalima ( versi Alkitab LAI 1976 -2000 ) dikatakan : ” GAMBAR WUJUD ALLAH ”. Tentu ” GAMBAR WUJUD ALLAH ” bukanlah ” ZAT ALLAH ”. Mana yang benar ? Ini menjadi bukti pula betapa ayat-ayat Alkitab/Bibel itu bisa berubah-ubah sesuai dengan tahun terbitnya .
Mari kita tinggalkan perbedaan kedua versi ayat Ibrani 1 : 1-3 tersebut dan membahas masalah ” ZAT ALLAH ” atau ” GAMBAR WUJUD ALLAH ” yang disebutkannya .
Jika dikatakan : YESUS ADALAH ZAT ALLAH , berarti ketika kaum Yahudi yang dibantu pasukan Romawi menyalib dan membunuh Yesus maka sesungguhnya yang disalib dan dibunuh iadalah ZAT ALLAH . Jadi ZAT ALLAH bisa mengalami kematian selama tiga hari tiga malam . Apakah mungkin ZAT ALLAH mengalami kematian ? Jika tidak mungkin ZAT ALLAH mengalami kematian melalui Yesus lalu mengapa dalam ayat Ibrani 1 : 1-3 yang ditunjuk Eja Kalima , dikatakan Yesus itu ZAT ALLAH ? Begitu pula dikatakan , Yesus adalah ” GAMBAR WUJUD ALLAH ” lalu apakah memang ALLAH ITU MEMILIKI WAJAH SEPERTI YESUS ?. Hal-hal seperti ini membutuhkan penjelasan dari penganut Kristen , khususnya dari Eja Kalima yang telah menyajikan pernyataan-pernyataan dogmatisnya .
Selanjutnya Eja Kalima menampilkan cerita yang katanya cerita kuno Cina tentang seorang Guru yang membantu seorang muridnya yang jatuh dalam sumur . Guru itu tidak hanya sekedar memberi instruksi kepada murid itu tetapi ikut terjun masuk ke dalam sumur untuk menolong muridnya. Maksud Eja Kalima , begitu pulalah dengan TUHAN ALKITAB , tidak sekadar memberi ” pengajaran ” kepada murid tersebut tetapi ikut terjun masuk di mana murid itu jatuh. Rupanya Eja Kalima ini tidak sadar atas kelemahan memperbandingkan " tindakan " TUHAN ALKITAB dengan ” cerita kuno Cina ” tersebut . Murid terjatuh dalam sumur , artinya manusia terjatuh dalam dosa . Pertanyaannya , apakah murid itu sengaja menjatuhkan diri ke dalam sumur itu ataukah terjatuh tidak sengaja ? Kalau sengaja menjatuhkan diri berarti murid itu sadar dengan akibat kejatuhan itu . Apakah Adam terjatuh dalam dosa karena sengaja dengan kesadaran sendiri ataukah tidak sengaja karena ditipu oleh Iblis ? Cerita Alkitab/Bibel , Adam jatuh dalam dosa di luar keinginannya karena ditipu Iblis melalui isterinya HAWA . Ini berarti cerita kuno Cina itu tidak cocok sebagai perbandingan . Kemudian , jatuh dalam sumur berarti jatuh dalam dosa atau tegasnya berbuat dosa . Dan menurut cerita kuno Cina , Guru itu ikut terjun masuk ke dalam sumur . Ini berarti , BAPA IKUT BERBUAT DOSA ! Ini sangat tidak wajar. Dan perlu diketahui , Guru itu masuk ke dalam sumur , bukan kata-katanya , bukan nyawanya , bukan semangatnya melainkan diri Guru itu sendiri . Nyatanya dalam dogma Kristen , yang ” TERJUN MASUK KE DALAM DOSA ” itu adalah FIRMAN YANG BERINKARNASI MENJADI MANUSIA YESUS . Ini sangat tidak cocok ! Dengan kata lain , cerita kuno Cina yang dijadikan bandingan itu TIDAK SESUAI dengan cerita dogma Kristen tentang penebusan dosa manusia oleh Yesus !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar