Jumat, 06 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN

DI SEMUA AGAMA , ALLAH ITU MAHA BESAR , KUASA, KUDUS , KASIH , ADIL, 
MAHA HADIR  ........... KALAU BEGITU , BUKANKAH ALLAH MEREKA SAMA ?  
 
 SIFAT TUHAN ALKITAB  DAN SIFAT ALLAH AL QUR’AN  ( 2 ).
( Tuhan yang dikenal oleh umatNya vs. Tidak dapat dikenal )
 
SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN
 
Eja Kalima memberi pernyataan sebagai berikut  :

Tuhan yang dikenal oleh umatNya vs. Tidak dapat dikenal

Tuhan Alkitab dapat dan perlu dikenal oleh umat-Nya . Yesus Kristus sengaja datang ke dunia agar manusia boleh mengenal Tuhan ( Yahya 17 : 3 ) . Bahkan manusia dapat datang dan berhubungan secara pribadi dengan Tubuhnya .
Namun dalam Islam , Allah tidak dapat dikenal dan tidak perlu dikenalkan oleh umat-Nya yang hanya hamba belaka . 
Allah begitu tinggi dan mulia sehingga tidak ada seorang manusia pun yang pernah secara pribadi mengenal-Nya . Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam ( Qs. 17 : 85 ). Allah Al Quran berada di tempat yang berlainan dimensi dan rlatif abstrak sehingga tidak ada seorang yang peranh secara pribadi mengenalnya 

SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN  
 
Pada aspek  Tuhan yang dikenal oleh umatNya vs. Tidak dapat dikenal  “ , Eja Kalima membandingkan antara “ TUHAN ALKITAB “ dengan  “ ALLAH AL QUR’AN “ dalam hal : dikenal atau tidak dikenal ummat-Nya . Menurut Eja Kalima , Tuhan Alkitab dapat dikenal karena berbentuk fisik manusia yaitu Yesus Kristus . Sedangkan Allah Al Qur’an tidak dikenal.  Permasalahannya, apa yang dimaksud dengan “ mengenal “ ini . Ternyata yang dimaksud dengan “ mengenal “ Tuhan ini menurut Eja Kalima adalah mengenal dalam arti bisa dilihat , bisa disentuh secara fisik . Semua itu terwujud dalam bentuk manusia bernama Yesus Kristus , yang dapat dilihat , dapat disentuh , dipegang dan bahkan dapat dipukul , ditempeleng , diludahi dan segala macamnya . Itu adalah hak Eja Kalima dan penganut Kristen untuk meyakini Tuhan dengan model seperti itu karena memang Alkitab telah menggambarkan bahwa Tuhan itu berbentuk dan berprilaku seperti manusia , sebagaimana yang telah ditegaskan di muka. Cuma ada kontradisi antara ayat-ayat Bibel karena ada ayat Bibel yang menegaskan bahwa Tuhan dapat dilihat dalam wujud manusia atau entah dalam wujud lain ( Bil. 23  : 4  ; Kejad. 12 : 7  ;  17 : 1  ; 18 : 1  ; 26 : 2 ; 33 : 30  ; 35 : 9  ; 48 : 3  ; Amos 9 : 1   ; dan sebagainya )  tetapi ada sejumlah ayat Bibel yang justru menegaskan bahwa Tuhan tidak  bisa dilihat   atau belum pernah dipandang oleh siapapun ( 1 Yah.  4 : 12 ; Kel. 33 : 20 , 23  dan sebagainya ).
Ummat Islam ( kaum Muslimin ) tidak akan mempercayai Tuhan model demikian , karena yang berbentuk manusia atau berbentuk makhluk bukanlah Tuhan . Itu hak ummat Islam ( kaum Muslimin ) untuk berkeyakinan seperti itu . Tidak perlu penganut Kristen merasa ” kecewa ” terhadap ummat Islam lantaran tidak menyembah TUHAN YANG BERWUJUD MANUSIA .
Dan yang perlu digaris-bawahi adalah pernyataan Eja Kalima dalam masalah mengenal Allah “ ini dalam Islam : “ Namun dalam Islam , Allah tidak dapat dikenal dan tidak perlu dikenalkan oleh umat-Nya yang hanya hamba belaka  . Ini pernyataan ngawur Eja Kalima. Ummat Islam menyembah Allah , Tuhan Yang Maha Esa , karena ummat Islam “ mengenal-Nya “. Tetapi “ mengenal “ ini tidak harus dalam pengertian melihat secara fisik seperti yang dikatakan Eja Kalima . Ummat Islam mengenal Allah dengan  cara mengenal sifat-sifat-Nya , mengenal melalui kejadian-makhluk-Nya , mengenal dengan memperhatikan tanda-tanda yang diberikan-Nya dalam kehidupan makhluq-Nya . Bibel/Alkitab menceritakan bahwa MUSA SELAKU PEMEGANG OTORITAS KENABIAN di kalangan   Yahudi , juga TIDAK DAPAT MELIHAT TUHAN. Hal ini dikisahkan dalam ayat Keluaran  4 : 1- 5      dan ayat Keluaran  33 : 18- 23  sebagaimana yang akan dianalisis berikut nanti.
Kalau Allah bisa berwujud seperti manusia , maka itu bukan Allah . Dalam Kristen pun , kita bisa bertanya , apakah Eja Kalima sudah melihat secara fisik masing-masing ketiga Oknum Trinitas seluruhnya sehingga bertepuk dada dengan berkata : “  Bahkan manusia dapat datang dan berhubungan secara pribadi dengan Tubuhnya  “ ? Apakah Eja Kalima ini sudah melihat BAPA secara fisik dan bagaimana bentuk tubuhnya ? Apakah Eja Kalima sudah melihat Roh Kudus dan bagaimana bentuk tubuhnya ? Dan apakah Eja Kalima sudah melihat Yesus secara fisik dan menyentuh tubuhnya ? Kita ajak Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya yang bersikap sama yaitu jika berdialog  dengan  ummat  Islam  tidak  usah  menyajikan  pandangan dogma Kekristenan yang
justru masih membutuhkan penjelasan karena kocar-kacirnya.
Begitu pula dengan pernyataan Eja Kalima : “ Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam ( Qs. 17 : 85 ). Allah Al Quran berada di tempat yang berlainan dimensi dan relatif abstrak sehingga tidak ada seorang yang pernah secara pribadi mengenalnya  “ penuh manipulasi dan kebohongan .
Ayat Qs. 17 : 85 berbicara tentang ” ROH ” dan tidak berbicara mengenai MALAIKAT PEWAHYU. Jelasnya ayat Qs. 17 : 85 terjemahannya adalah : ” Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : " Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit  ”. Roh yang dibicarakan dalam ayat ini adalah ROH yang diberikan kepada manusia sehingga hidup , bukan MALAIKAT PEWAHYU ( Malaikat Jibril alias Roh Kudus ). Memang masalah ROH adalah urusan Allah . Tidak ada pengetahuan manusia tentang Roh. kecuali sedikit . Di sini kita bisa melihat kengawuran Eja Kalima karena menunjuk ayat Qs. 17 : 85 untuk menyatakan melihat MALAIKAT PEWAHYU    ( Malaikat Jibril, Roh Kudus ) padahal ayat Qs.17 : 85  tidak berbicara tentang melihat malaikat .
Terlepas dari kengawuran menunjuk ayat Qs. 17 : 85 ini , pernyataan si Kristen Penyaji   Apologi : ” Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam    perlu ditanggapi. Apakah Eja Kalima ini sendiri apa sudah pernah melihat malaikat ? Apakah Eja Kalima sudah pernah melihat roh ? Kalau Eja Kalima ini benar-benar mengenal Roh , ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab sebagai bukti bahwa Eja Kalima ini mengetahui tentang Roh , yaitu :
                                                                                                                                     
-     Roh Allah itu ada berapa ? Apakah cuma satu ataukah lebih dari satu  ? Jika lebih dari satu , yang manakah yang disebut dengan ROH KUDUS ?
-     Kata “ Roh “ ( bhs. Arab ) , dalam bahasa Ibrani adalah : RUAKH yang berarti   “ ANGIN “ ( - bahkan ada pakar Bibel yang memberi arti : “ BADAI PADANG PASIR “ ). Sesuai dengan arti kata “ ROH “ ini , lalu bagaimana bentuk tubuhnya secara fisik dan tetap ? Apakah “ ANGIN “ punya tubuh tetap secara fisik  yang dapat diraba dan dilihat oleh Eja Kalima ?

Kita berharap, Eja Kalima ini bisa memberi penjelasan tuntas atas pertanyaan di atas ( - masih banyak pertanyaan lainnya , tetapi cukup dua pertanyaan itu saja -) sebagai bukti Eja Kalima benar-benar mengenal Tuhannya secara fisik .  Mungkin yang dimaksud oleh Eja Kalima dengan ” melihat Allah ” adalah melihat Yesus sebagai inkarnasi dari Allah . Artinya Yesus adalah wujud fisik dari Allah . Jika kegilaan seperti ini diakui , berarti Allah yang disembah Eja Kalima juga ngengek ( buang kotoran besar ) , kencing , mimpi basah dan sebagainya . Itukah model  ” ALLAH ” yang disembah penganut Kristen ? 
Selanjutnya kita bahas pernyataan Eja Kalima : " Allah begitu tinggi dan mulia sehingga tidak ada seorang manusia pun yang pernah secara pribadi mengenal-Nya . Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam ( Qs. 17 : 85 ). Allah Al Quran berada di tempat yang berlainan dimensi dan rlatif abstrak sehingga tidak ada seorang yang peranh secara pribadi mengenalnya  " .
Pernyataan Eja Kalima ini berkaitan dengan kepercayaan terhadap Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam Islam . Apa maksud pernyataan Eja Kalima : ” ......tidak ada seorang manusia pun yang pernah secara pribadi mengenal-Nya  ” ini ?. Ada dua kata kunci yaitu  Mengenal  ” dan ” secara pribadi ” dalam pernyataan Eja Kalima ini sebagai istilah  yang ” sangat hebat ” tetapi sulit dicerna dalam konsep hubungan vertikal antara ALLAH dengan MANUSIA  karena kekaburan maksudnya .  Dalam Islam , mengenal Allah dapat terjadi dengan memperhatikan CIPTAAN ALLAH , karena mengenal ALLAH muka dengan muka secara fisik adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi . Kita bisa mempertanyakan kembali kepada Eja Kalima , apakah anda sudah mengenal ALLAH secara pribadi ?  Pertanyaan ini akan mudah dijawab oleh Eja Kalima , karena yang dimaksud olehnya dengan  ” mengenal Allah secara pribadi ” tidak lain adalah mengenal Allah yang sudah berwujud fisik manusia yaitu Yesus . Artinya , ALLAH sudah berinkarnasi menjadi manusia fisik yaitu Yesus sehingga bila dikatakan ” mengenal Allah secara pribadi ” tidak lain adalah  mengenal Yesus , yang diyakininya adalah ALLAH . Jika demikian halnya, itu urusan dogma Kristen, walaupun ayat-ayat Alkitab/Bibel justru menegaskan kemanusiaan Yesus, bukan keilahian Yesus. Sebaliknya, Islam tidak mengajarkan pemahaman seperti itu . Segala sesuatu yang anda dapat bayangkan bukanlah tuhan .  Tuhan tidak terjangkau oleh indera manusia dan oleh khayalan manusia. Oleh karena itu , pemahaman ” mengenal Allah secara pribadi ” merupakan pemahaman yang tidak masuk akal sama sekali .
Selanjutnya pernyataan sk Kristen Penyaji Apologi : ” Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam  ” menunjukkan kengawuran si Kristen . Ajaran Islam mengungkapkan ada dua sisi yaitu melihat Allah di dunia dan melihat Allah di surga nanti di akhirat. Tentang melihat Allah  di dunia adalah sangat mustahil . Hal ini diungkapkan dalam ayat Qs. 7 : 143  tentang kisah Musa as yang hendak melihat Allah SWT  :

Dan tatkala Musa datang untuk ( munajat dengan Kami ) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman ( langsung ) kepadanya, berkatalah Musa : " Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau ) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau ". Tuhan berfirman : " Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya ( sebagai sediakala ) niscaya kamu dapat melihat-Ku ". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata : " Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."

Kaum Musa pernah meminta kepada Musa untuk melihat Allah sebagai syarat mereka beriman kepada risalah yang dibawa Musa . Hal ini diungkapkan Al Qur’an dalam ayat Qs. 2  : 55  :

Dan ( ingatlah ), ketika kamu berkata : " Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang ” , karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya ".

Kaum  Musa  ini  disambar  halilitar  karena  sikap  kufur mereka dengan menuntut yang aneh-aneh yaitu hendak melihat Allah . Ini merupakan penegasan Al Qur’an secara tidak langsung tentang ketidak-mungkinan melihat Allah  di dunia .
Ketidak-mungkinan melihat Tuhan di dunia , dinyatakan pula oleh sejumlah hadist shahih . Berikut dikutipkan hadist shahih Bukhari-Muslim  ( menurut redaksi Muslim )  tentang tidak mungkin melihat Tuhan di dunia [1] ) :

Dari Abu Dzar ra, katanya : ” Aku bertanya kepada Rasulullah saw , Adakah Anda melihat Allah ? ”. Jawab beliau : ” Dia Maha Cahaya , bagaimana aku bisa melihat-Nya ? ”.

Dari Abu Musa ra , katanya : ” Pada suatu ketika , Rasulullah saw mengajarkan kepada kami ............. Tirai-Nya ialah cahaya . Jikalau tirai itu dibuka maka terbakarlah segala yang ada , di mana penglihatan Allah sampai kepadanya .

Dan sebenarnya ketidak-mungkinan melihat Allah di dunia , diungkapkan pula secara tidak langsung oleh Alkitab/Bibel , yaitu dalam ayat Keluaran  4 : 1- 5  [2] ) : 

Maka sahut Musa , sembahnya : ” Tetapi barangkali mereka itu tiada percaya akan daku atau tiada mendengar akan kataku , melainkan mereka itu akan berkata demikian , BAHWA TUHAN TIADA KELIHATAN PADAMU ! ”.
Maka firman Tuhan kepada Musa : ” Apakah yang ada pada tanganmu ini ? ” . Maka sahutnya : ” TONGKAT  ! ”.
Maka firman Tuhan : ” Campakkanlah dia ke bumi ”. Maka dicampakkannya ke bumi lalu MENJADI ULAR . Maka larilah Musa daripadanya .
Maka firman Tuhan kepada Musa : ” Ulurkan tanganmu , capailah akan dia pada ekornya ”. Maka diulurkannya tangannya , dicapainya , lalu menjadi tongkat pula pada tangannya .
Maka firman Tuhan : ” Ia itu SUPAYA MEREKA PERCAYA BAHWA TELAH KELIHATAN KEPADAMU TUHAN , Allah nenek moyang mereka itu , yaitu Allah Ibrahim dan Allah Ishak dan Allah Yakub .

Apa yang kita pahami dari ayat Keluaran 4 : 1-5 ini ?  Apakah kita memahaminya bahwa Musa benar-benar telah melihat Allah-nya yaitu Allah yang tadinya berwujud TONGKAT yang ada di tangan Musa lalu Allah itu berubah MENJADI ULAR  ? Apakah demikian Allah- nya penganut Kristen yang bisa dilihat itu yaitu TONGKAT DAN ULAR ? Sangatlah aneh jika memahamkan seperti itu walaupun memang begitulah bunyi ayat Keluaran 4 : 1- 5 tersebut .
Ayat Keluaran 4 : 1-5 ini mengungkapkan , pertama-tama Musa menyatakan kekhawatirannya tentang sambutan kaumnya atas misi risalah yang dibawanya di mana kaumnya akan berkata bahwa Tuhan tidak kelihatan pada Musa . Bisa jadi kekhawatiran ini bila kaumnya berkata kepada Musa : ” Bagaimana kami bisa percaya kepadamu padahal Tuhan yang mengutusmu tidak kelihatan ? ”. Untuk itu Allah  memberikan mukjizat tongkat menjadi ular . Dengan mukjizat itu , diharapkan bisa menjadi bukti bahwa  ” TUHAN TELAH KELIHATAN KEPADA MUSA ” yang dapat diartikan bahwa : MUSA BENAR-BENAR DIUTUS OLEH TUHAN . Jadi bukan melihat Allah dengan sesungguhnya . Dari ayat Keluaran 4 : 1-5  dipahami bahwa secara tidak langsung ditegaskan , Musa tidak bisa melihat Tuhan-nya , tetapi sebagai bukti bahwa ” Musa telah melihat Tuhan ” bila kaumnya berkata               ” BAHWA TUHAN TIADA KELIHATAN PADA MU ! ” lalu Allah memberikan tanda mukjizat berupa mengubah tongkat menjadi Ular . Jadi tidak benar-benar Musa melihat Allah dalam pengertian harfiah melainkan  melihat Allah ” secara ungkapan yaitu melalui tanda-tanda mukjizat  yang dianugerahi Allah kepadanya . Perhatikan pula ayat Keluaran  33 : 18- 23  yang secara tegas menyatakan tidak dapat  melihat Allah kecuali UJUNG BELAKANG ALLAH .

Maka sembah Musa : ” Tunjukkan apalah sekarang kemuliaanmu kepadaku ”
Tetapi firman Tuhan : ” Bahwa Aku akan menjalankan segala kebajikanKu lalu daripada matamu dan Aku akan menyebut nama Tuhan di hadapan mukamu , maka Aku akan mengasihankan barang siapa yang Kukasihankanlah dan mengaruniakan  rahmatKu kepada barang siapa yang Kukaruniakan rahmat itu .
Dan lagi firman Tuhan : ” TIADA BOLEH ENGKAU MEMANDANG WAJAHKU  karena seorang manusiapun TIADA DAPAT MEMANDANG AKU serta tinggal hidup 
Dan lagi firman Tuhan : ” Bahwasanya adalah suatu tempat hampir dengan Aku , maka di sana hendaklah engkau berdiri di atas gunung batu .
Maka akan jadi kelak , apabila kemulian-Ku  berjalan lalu  maka Aku menaruhkan dikau dalam celah batu itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku sampai sudah Aku berjalan lalu
Maka  apabila  Aku  sudah  melalukan tangan-Ku  maka  ENGKAU  AKAN MELIHAT UJUNG BELAKANGKU TETAPI WAJAHKU ITU TIADA DAPAT DIPANDANG !

Inti pernyataan ayat Keluaran 33 : 18-23 tentang ketidak-mungkinan melihat wajah Allah sama
dengan yang dinyatakan ayat Al Qur’an Qs. 7 : 143 , walaupun terganggu oleh Keluaran 33 : 23 yang memberi kemungkinan melihat BELAKANG-NYA ALLAH . Tentang melihat Allah nanti di akhirat , sejumlah hadist menyatakan demikian . Dan berikut disajikan sebuah hadist shahih Bukhari- Muslim    ( dengan redaksi Muslim ) sebagai berikut  [3] ) :

Dari Shuhaib ra. dari Nabi saw , sabdanya : ” Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga , Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman kepada mereka : ’ Apakah kamu semua memerlukan sesuatu yang perlu Aku tambah untukmu ? ’. Jawab mereka : ’ Bukankah muka kami telah putih gilang- gemilang ? Bukankah kami telah Engkau masukkan ke surga dan engkau bebaskan dari neraka ? ’ ”.
Kata Rasulullah saw selanjutnya : ” Lalu Allah membukakan tabir yang menutup-Nya. Sekonyong-konyong penduduk surga merasakan nimat yang tiada taranya selain memandang Allah Azza wa Jalla ”.

Selanjutnya ajaran Islam mengenai melihat malaikat  juga ada dua sisi yaitu melihatnya di akhirat dan melihatnya di dunia . Dalil yang menyatakan melihat malaikat di hari kiamat dapat kita baca ayat Qs. 25 :  22  dengan terjemahan sebagai berikut :  

Pada hari mereka melihat  malaikat  dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: "Hijraan mahjuuraa ”

Sedangkan ajaran Islam tentang melihat malaikat di dunia diungkapkan oleh sejumlah hadist seperti hadist Shahih Bukhari-Muslim antara lain (menurut redaksi Muslim ) sebagai berikut [4] ):

Dari Jabir ra , katanya Rasulullah saw bersabda : ” ................  Kepadaku diperlihatkan juga
JIBRIL as. Ketika itu , dia kulihat mirip dengan Dihyah ( Ibnu Khalifah ) 

Dan sejumlah hadist pun mengungkapkan juga para sahabat melihat malaikat tetapi dalam wujud manusia yang tidak pernah mereka kenal senelumnya . Hal ini dikemukakan oleh begitu banyak hadist  antara lain  hadist Shahih Bukhari :

Dari Abu Utsman  ( - yang mendengar dari Usamah bin Zaid ) , ia berkata : Aku diberitahu bahwasanya Jibril as. mendatangi Nabi saw dan di sampingnya ada Ummu Salamah . Ia mulai berbicara kemudian berdiri. Nabi saw bertanya kepada Ummu Salamah : ” Siapa     ini ? ” . Ummu Salamah menjawab : ” Ini adalah Dihyah ”. Ummu Salamah berkata : ” Demi Allah , aku tidak mengira selain ia , sampai aku mendengarkan khutbah Nabi saw yang menjelaskan tentang Jibril ”

Ummu Slamah isteri Nabi saw melihat ” DIHYAH ” yang sebenarnya adalah Malaikat Jibril yang mewujudkan diri sebagai Dihyah ibnu Khalifah . Hadis lainnya adalah Hadist Shahih Riwayat Bukhari – Muslim  :

Dari Sa’d bin Abu Waqqash ra , ia berkata : ” Pada perang UHUD , aku melihat Rasulullah bersama DUA ORANG LAKI-LAKI ( berada di posisi kiri dan kanan Nabi  saw ) , bertempur membela beliau. Keduanya mengenakan pakaian putih – bertempur dengan sangat sengit. Aku TIDAK PERNAH MELIHAT MEREKA BERDUA SEBELUM MAUPUN SESUDAH PERANG UHUD

Tidak diragukan , yang dilihat Sa’d bin Abu Waqqass tentang dua orang yang mendampingi Rasulullah saw dalam berperang kesyirikan . Dalam hadist Shahih Muslim ditegaskan kedua malaikat itu adalah JIBRIL dan MIKAIL .
Juga dalam hadist shahih Bukhari Muslim dikisahkan , ketika Nabi Muhammad saw tengah berkumpul dengan para sahabat , tiba-tiba muncul seorang laki-laki dan mendatangi  Nabi Muhammad saw dan duduk di depan lutut Nabi Muhammad saw dan mengajukan pertanyaan tentang ISLAM , IMAN dan IHSAN , yang setiap dijawab oleh Nabi Muhammad saw selalu disambut komentar  : ” BENAR ” oleh laki-laki tersebut . Setelah mengajukan pertanyaan dan mendapat jawaban, laki-laki tersebut kemudian pergi . Nabi Muhammad saw menyuruh sahabat memanggil laki-laki itu . Tetapi ketika dicari , laki-laki itu sudah tidak ada . Nabi Muhammad saw memberitahu para sahabat: ” ITULAH JIBRIL. DIA SENGAJA DATANG HENDAK MENGAJARKAN AGAMA KEPADA ANDA SEMUA KARENA ANDA TIDAK MENANYAKANNYA ”. Dari kesaksian ini , ternyata para sahabat melihat malaikat Jibril yang datang dalam wujud manusia. Hadist Shahih Riwayat Bukhari lainnya menceritakan bagaimana salah seorang sahabat melihat malaikat tetapi tidak mengetahuinya. Hadist tersebut adalah demikian :

Dari Usaid bin Hudhair , ia berkata , ketika ia sedang membaca surah Al Kahfi di suatu malam , sementara kudanya terikat di dekatnya , tiba-tiba kuda itu bergerak tak menentu . Ia diam dan kuda itu menjadi tenang . Apabila ia membaca , maka kuda kembali bergerak . Lalu dia diam dan kuda pun tenang . Kemudian ia membaca maka kuda kembali bergerak . Akhirnya ia berhenti karena anaknya bernama Yahya berada dekat kuda itu dan ia khawatir akan terinjak . Ketika ia menariknya , ia mengangkat kepalanya ke langit  hingga ia tak melihatnya . Pagi harinya ia menceritakan kepada Nabi saw lalu beliau pun bersabda kepadanbya :  ” Bacalah wahai Ibnu Hudhair , bacalah wahai Ibnu Hudhair ! ”. Dia berkata ,” Wahai Rasulullah , aku khawatir Yahya diinjak karena posisinya dekat kuda . Aku mengangkat kepalaku dan pergi kepadanya . Lalu aku mengangkat kepalaku ke langit dan ternyata seperti lebah yang di dalamnya semisal lampu-lampu . Aku pun keluar hingga aku tak melihatnya . Beliau bertanya :   ” Apakah engkau tahu apa  itu ? ”. Aku berkata : ” Tidak ! ” . Beliau bersabda : ” Itulah malaikat yang mendekat karena suaramu. Sekiranya engkau terus membaca niscaya pagi hari , ia akan dilihat oleh manusia tanpa dapat menyembunyikan diri mereka ”.

Dengan fakta demikian , lalu bagaimana  Eja Kalima bisa berkata  dengan penuh kebodohan : ” Jangankan Allah , malaikat pewahyu yang Roh-pun praktis tidak dikenal oleh Islam    ?. Bagaimana Eja Kalima ini bisa berkata bahwa MALAIKAT JIBRIL PRAKTIS TIDAK DIKENAL OLEH ISLAM , padahal keyakinan Islam sangat terang benderang bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dari Allah SWT oleh malaikat Jibril . Kebodohan apa yang didemonstrasikan Eja Kalima ini ? . Disarankan kepada Eja Kalima , sebelum melempar pernyataan dan berkomentar tentang ajaran Islam , supaya belajar dulu ajaran Islam tentang tema yang hendak disinggung , supaya tidak muncul pernyataan yang ngawur seperti itu . Mengomentari ajaran Islam tetapi tidak tahu sama sekali bagaimana yang sebenarnya yang dikomentari tersebut . Ternyata yang dikomentari Eja Kalima ini bukan ajaran Islam melainkan khayalan si Kristen Penyaji


[1]). Hadist Shahih Muslim , Kitabul Iman , No. 145 – No. 146
[2] ). Menurut Alkitab/Bibel , justru yang mempertunjukkan mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular adalah Harun, bukan Musa. Hal ini dapat kita baca  dalam ayat Keluaran 7 : 9-10  :   Apabila titah Firaun kepadamu demikian : ‘ Tunjukkanlah olehmu suatu mujizat ‘, maka hendaklah engkau katakan kepada Harun : ‘ Ambillah tongkatmu , campakkan ke bumi di hadpan Firaun maka ia itu akan menjadi seekor ular naga ‘. Maka pergilah Musa dan Harun menghadap Firaun lalu diperbuat oleh mereka itu seperti firman Tuhan kepadanya  Maka dicampakkan Harun tongkatnya di hadapan Firaun dan di hadapan segala pegawainya lalu tongkat itu menjadi seeekor ular naga “.  
[3] )  Hadist Shahih Muslim , No. 148
[4] ). Hadist Shahih Muslim , No. 140 – No.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar