Jumat, 06 Januari 2012

MENYAMBUT UNDANGAN JAMUAN PIHAK KRISTEN


DI SEMUA AGAMA , ALLAH ITU MAHA BESAR , KUASA, 
KUDUS , KASIH , ADIL, MAHA HADIR ..... ............................ 
KALAU BEGITU , BUKANKAH ALLAH MEREKA SAMA ?
  
SIFAT TUHAN ALKITAB  DAN SIFAT ALLAH AL QUR’AN  ( 6 ).
( Tuhan yang tidak bisa menginkari Diri-Nya vs. Bisa mengingkari Diri-Nya )

 SAJIAN JAMUAN PIHAK KRISTEN : 

Eja Kalima memberi pernyataan berikut  :

Tuhan yang tidak bisa menginkari Diri-Nya vs. Bisa mengingkari Diri-Nya

Tuhan Alkitab “ dibatasi “ oleh hakikatNya sendiri yang Maha Baik . Ia tidak menciptakan dari diri-Nya kejahatan atau kesusahan . itu semua adalah akibat dari dosa-dosa kita sendiri ( lihat booklet : “SIAPA ALLAH DAN APA ALKITABNYA  “ ).
Allah sejak semula menciptakan segala sesuatu dalam keadaan baik ( Kejad. 1 ) . Tuhan Alkitab bukanlah Tuhan yang dapat melakukan apa saja yang bertentangan dengan hakikat-Nya Yang Maha Baik, Maha Kudus, yang Maha Benar. Tuhan tidak bisa mengingkari diri-Nya sendiri. Dia Yang Maha Benar tidak berubah menjadi tidak benar dengan cara menipu-daya apapun alasannya . Dalam Alkitab ,
kita berkali-kali diberitahu bahwa :

“ Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus “( Yes. 45:19 ).
“ Tuhan yang tidak berdusta “ dan “ allah tidak mungkin berdusta “ (Titus 1 : 2 ; Ibr.6 : 18 ).

Ditegaskan lagi bahwa Tuhan tidak dapat menyangkal diriNya sebagai Tuhan dengan segala sifat-sifat benar yang dimilikiNya ( lihat 2 Timotius 2 : 13 ).
Namun Islam mengimani bahwa Allah Maha besar tidak dibatasi oleh apapun , tidak juga oleh hakikatNya sendiri . Allah dapat melakukan apa saja , kapanpun Dia mau , di tempat manapun dan Dia berada dan berotoritas paling atas tanpa batas .
Allah yang Maha Baik ini bisa menciptakan ketidak-baikan , misalnya manusia diciptakan DALAM KEADAAN SUSAH PAYAH ( Qs. 90 : 4 ). Karena alasan tertentu, Allah juga bisa menjuluki dirinya sebagai SEBESAR-BESAR/SEBAIK-BAIK PENIPU DAYA ( Qs. 3 : 54 , 8 : 30 , baca bahasa dan istilah aslinya ). Dan Allah ini dengan alas an tersendiri , diam-diam menyesatkan semua orang ketika Ia menggantikan Isa Al Masih yang hendak disalibkan itu dengan seorang ISA-ISA-  an , yang tidak pernah diketahui identitasnya dan alasannya .


SAMBUTAN ATAS SAJIAN JAMUAN :

Dengan tema perbandingan “ Tuhan yang tidak bisa mengingkari Diri-Nya vs. Bisa mengingkari Diri-Nya “, Eja Kalima menyatakan bahwa karena TUHAN ALKITAB tidak menciptakan kejahatan atau kesusahan karena “ dibatasi “ oleh hakikatNya sendiri yang Maha Baik dan karena sejak semula Allah menciptakan segala sesuatu dalam keadaan baik ( Kejad. 1 ) . Rupanya inilah yang dimaksud oleh Eja Kalima dengan Tuhan Alkitab “ tidak bisa mengingkari Diri-Nya “. Ini hak Eja Kalima mengklaim secara dogmatis seperti itu karena yag dikatakannya hanya merupakan intepretasi  teologis dogmatis. Tetapi benarkah klaim Eja Kalima ini jika dirujukkan kepada ALKITAB/BIBEL ?   Mari kita simak ayat Mazmur 115 : 3  berikut  :

Bahwasanya Allah kami adalah dalam sorga maka Ia pun berbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya 

Apa arti dari “  Ia pun berbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya  “ dalam ayat Mazmur   115 : 3 ini ? Hanya satu pengertiannya yaitu : TUHAN ALKITAB SEWENANG-WENANG BERTINDAK MENURUT KEHENDAKNYA ! Apakah ini bukan berarti satu bentuk dari tindakan Tuihan Alkitab : “ mengingkari Diri-Nya “ menurut istilah Eja Kalima ?  Haruslah demikian jika Eja Kalima konsekwen dengan pernyataannya tersebut . Tetapi apakah pernyataan tentang Tuhan Alkitab dalam ayat Mazmur 115 : 3  : ” Ia pun berbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya ” harus diartikan sebagai satu bentuk “ mengingkari Diri-Nya “ ? Islam tidak mengajarkan pemahaman bodoh seperti itu . Tidak bisa tidak , tindakan apapun yang dilakukan Tuhan , apakah itu baik atau buruk dalam pandangan manusia , jelas tidak terikat oleh hakekat diri-Nya (- menurut istilah dan pengertian Eja Kalima -). Tuhan Alkitab memberi keburukan kepada manusia , bukan karena mengingkari sifat Maha-Baik-Nya melainkan satu bentuk hukuman kepada manusia karena dosa-dosa mereka . Sejumlah ayat Bibel yang menegaskan betapa Allah memberikan keburukan kepada manusia . Perhatikan ayat-ayat Alkitab/Bibel berikut :

Tetapi firman Tuhan : Bahwa Aku akan menjalankan segala kebajikanku lalu dari pada matamu dan Aku akan menyebut nama Tuhan di hadapan mukamu maka AKU AKAN MENGASIHAN-KAN BARANG SIAPA YANG KUKASIHANKANLAH DAN MENGARUNIAKAN RAHMATKU KEPADA BARANG SIAPA YANG KUKARUNIAKAN RAHMAT ITU.  ( Keluaran  33 : 19  ) [1] )

Karena Tuhan telah berfirman kepada Musa : Bahwa AKU AKAN MENARUH BELAS KASIHAN KEPADA BARANG SIAPA YANG KUKASIHANI dan Aku AKAN MENARUH SAYANG KEPADA BARANG SIAPA YANG KUSAYANGI .    ( Rum 9 : 15 )
Oleh karena yang demikian , ALLAH MENARUH BELAS KASIHAN AKAN BARANG SIAPA YANG DIKEHENDAKINYA dan Ia  MENGERASKAN HATI AKAN BARANG SIAPA YANG DIKEHENDAKINYA  ( Rum 9 : 18 )

Jika memang ” TUHAN ALKITAB ” ( - menurut istilah Eja Kalima - ) memiliki sifat Kasih sebagai HAKEKAT DIRINYA , dan itu tidak akan diingkari lalu mengapa dalam ayat-ayat ini ditegaskan bahwa ” TUHAN ALKITAB ” menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya  dan membenci atau tidak menaruh kasih ( ” mengeraskan hati ” )  kepada  siapa yang dikehendaki-Nya ?
Dalam sikap yang berbuat menurut KEHENDAKNYA tersebut , TUHAN ALKITAB BERBUAT SEWENANG-WENANG . Perhatikan ayat Keluaran 4 : 21-23 berikut :

Maka firman Tuhan kepada Musa : ” Sekarang sedang engkau pergi hendak pulang ke Mesir , tak akan jangan diperbuat olehmu di hadapan Firaun segala mukjizat yang telah kutaruh dalam kuasa tanganmu , tetapi AKU AKAN MENGERASKAN HATINYA SEHINGGA TIADA DIBERINYA BANGSA ITU PERGI .
Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Firaun demikian : ” Inilah firman  Tuhan : Bahwa Israil itulah ANAKKU LAKI-LAKI YAITU ANAKKU  YANG SULUNG .
Maka firmanku kepadamu : Biarlah ANAKKU ITU pergi supaya ia berbuat ibadat kepadaku ; JIKALAU ENGGANLAH ENGKAU MEMBERI AKAN DIA PERGI , BAHWA SESUNGGUH-NYA AKU AKAN MEMBUNUH ANAKMU LAKI-LAKI YANG SULUNG

Perhatikan ! TUHAN ALKITAB menyuruh Musa mendatangi Firaun agar Firaun membiarkan Bani Israil meninggalkan Mesir dengan memberikan ancaman , jikalau Firaun tidak membiarkan Bani Israil meninggalkan Mesir maka TUHAN ALKITAB AKAN MEMBUNUH ANAKLAKI-LAKI SULUNG ORANG MESIR. Padahal secara tegas TUHAN ALKITAB menyatakan bahwa TUHAN ALKITAB AKAN MENGERASKAN HATI FIRAUN SEHINGGA FIRAUN TIDAK AKAN MEMBIARKAN BANI ISRAIL PERGI MENINGGALKAN MESIR .
Dalam hal ini dipahami secara pasti , TINDAKAN FIRAUN YANG TIDAK MAU MEM-BERI BANI ISRAIL MENINGGALKAN MESIR, tidak lain adalah HASIL TINDAKAN TUHAN ALKITAB sendiri. Tetapi mengapa Firaun diancam , jika tidak membiarkan Bani Israil pergi meninggalkan Mesir ( - yang merupakan KEHENDAK TUHAN ALKITAB  sendiri atas diri Firaun-) lalu TUHANALKITAB  MEMBUNUH ANAK LAKI - LAKI SULUNG ORANG MESIR, yang justru tidak tahumenahu tentang hal itu ?  Ini adalah gambaran kesewenang-wenangan TUHAN ALKITAB. Bentuk pengingkaran diri TUHAN ALKITAB atas diri-Nya ditunjukkan pula dengan janji-Nya yang berubah-ubah . Perhatikan ayat Kejadian 18 : 23 : 32 berikut :

Maka datanglah Ibrahim hampir sambil menyembah , katanya : ” Masakan Tuhan hendak membinasakan mereka itu juga dengan tiada disayangkan tempat itu tersebab oleh LIMA PULUH ORANG BENAR yang di dalamnya .
Jauhkanlah  kiranya daripada Tuhan berbuat perkara yang demikian yaitu membunuh ORANG
BENAR ITU bersama-sama dengan orang yang jahat , seolah-olah ORANG YANG BENAR itu disamakan dengan orang yang jahat adanya . Jauhlah ia itu daripada Tuhan . Masakan Hakim segenap dunia tiada membenarkan mana yang benar !
Maka firman Tuhan : ” Jikalau kiranya KUDAPATI LIMA PULUH ORANG YANG BENAR dalam negeri Sodom itu , maka karena itulah NISCAYA KUPELIHARAKAN KELAK SEGENAP TEMPAT ITU  ” .
Maka sembah Ibrahim, pula : ” Sesungguhnya keadaan hamba lebu tanah dan abu maka hamba telah memberanikan diri hamba berkata-kata dengan Tuhan .
Barangkali pada LIMAPULUH ORANG YANG BENAR ITU ADA KURANG LIMA , masakan Tuhan menumpas juga negeri itu dari sebab KURANG LIMA ORANG .
Maka firman Tuhan : ” Jikalau kiranya KUDAPATI EMPAT PULUH LIMA  ORANG dalamnya , maka TIADA AKU AKAN MEMBINASAKAN DIA ” .
Maka sembah Ibrahim pula : ” Barangkali ada EMPAT PULUH ORANG YANG BENAR di sana ”.
Maka firman Tuhan : ” Karena sebab ORANG EMPAT PULUH ITU MAKA TIADA AKU AKAN MEMBINASAKAN DIA ”.
Lalu sembah Ibrahim : ” Jangan apalah Tuhan murka akan sembah hamba ini , barangkali ada di sana TIGA PULUH ORANG YANG BENAR ”.
Maka firman Tuhan : ” Jikalau KUDAPATI AKAN TIGA PULUH ORANG DI SANA , MAKA TIADA AKU MEMBINASAKAN DIA ”.
Lalu sembah Ibrahim : ” Sesungguhnya hamba memberanikan diri hamba hendak berkata-kata dengan Tuhan ; Barangkali ADA DI SANA DUA PULUH ORANG YANG BENAR ”.
Maka firman Tuhan : ” Karena sebab DUA PULUH ORANG ITULAH MAKA TIADA AKU AKAN MEMBINASAKAN DIA ”.
Dan lagi pula sembah Ibrahim : ” Jangan apalah Tuhan murka akan sembah hamba sekali ini saja ; Barangkali DI SANA SEPULUH ORANG YANG BENAR .
Maka firman Tuhan : ” Karena SEBAB SEPULUH ORANG ITULAH MAKA TIADA AKU MEMBINASAKAN DIA ”.
Setelah sudah firman-Nya kepada Ibrahim , maka gaiblah Tuhan ; maka Ibrahim pun kembalilah ke tempatnya .

Ayat Kejadian 18 : 23 – 32 mengisahkan dialog Ibrahim dengan Tuhan sehubungan dengan hukuman terhadap kaum di negeri Sodom dan Gomora ( negeri kaum Luth ). Ibrahim meminta agar Tuhan tidak membinasakan negeri itu . Alasan Ibrahim , sebab bisa jadi di negeri ada : LIMA PULUH ORANG YANG BENAR . Tuhan memberi janji jika ada LIMAH PULUH ORANG YANG BENAR maka negeri itu tidak akan dibinasakan . Tapi janji Tuhan kepada Ibrahim ini BERUBAH-UBAH sesuai dengan permintaan Ibrahim tentang nominal orang yang benar dalam negeri itu yaitu : 45 – 30 – 20 dan akhirnya 10 orang yang benar , jika ada dalam negeri itu maka negeri itu tidak akan dibinasakan . Kisah ini menjadi petunjuk betapa TUHAN ALKITAB SUKA MENGUBAH JANJI-NYA , suatu bentuk betapa TUHAN ALKITAB mengingkari diri-Nya
Ayat-ayat Alkitab/Bibel yang disebutkan ini justru menentang klaim dogmatis dari Eja Kalima tersebut . Berdasarkan pernyataan ALKITAB/BIBEL tersebut apakah masih bisa muncul klaim dogmatis seperti yang dikemukakan Eja Kalima bahwa  TUHAN ALKITAB tidak bisa mengingkari diri-Nya?
Kemudian dalam perbandingan ini , ketika Eja Kalima memberi penilaian bahwa Tuhan Alkitab “ tidak bisa mengingkari Diri-Nya “ berarti menurut Eja Kalima , Allah Al Qur’an itu “ bisa mengingkari Diri-Nya  karena Islam mengimani bahwa Allah Maha besar tidak dibatasi oleh apapun , tidak juga oleh hakikat-Nya sendiri dan Allah dapat melakukan apa saja , kapanpun Dia mau , di tempat manapun karena Allah  berada dan berotoritas paling atas tanpa batas . Allah Al Qur’an dikatakan Maha Baik tetapi bisa menciptakan ketidak-baikan  misalnya manusia diciptakan DALAM KEADAAN SUSAH PAYAH ( Qs. 90 : 4 ). Inilah yang tersirat dari perkataan Eja Kalima : Allah Al Qur’an itu “ bisa mengingkari Diri-Nya “. 
Penilaian yang diberikan Eja Kalima ini , tentu didasarkan pada sisi dirinya sebagai orang Kristen dan dari kaca mata dogma Kristen yang dianutnya. Rupanya Eja Kalima tidak membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan cermat . Dan memang tidak bisa diharapkan demikian karena dia adalah penganut Kristen. Kalau memang demikian , mengapa berani memberi komentar dan penilaian tentang Islam dan Allah yang disembah ummat Islam ( kaum Muslimin ) ? Jelas sekali penilaian yang diberikan Eja Kalima ini adalah komentar dan penilaian yang menyesatkan . Dalam ratusan  ayat Al Qur’an menegaskan kebaikan Allah yang tidak terukur, memberikan nikmat dan rezeki kepada makhluk , tidak berlaku dzalim kepada hamba-hamba-Nya . Jika ada keburukan yang ditimpa-kan kepada hamba-Nya , itu tidak lain akibat dari perbuatan manusia itu sendiri , bukan kesewenang-wenangan Allah . Berikut disajikan beberapa ayat Al Qur’an dari sekian ratusan ayat yang mengungkapkan sifat Maha-Baik-Nya Allah Al Qur’an dan memberikan keburukan kepada manusia sebagai akibat dan hasil dari perbuatan manusia itu sendiri :

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim ( Qs. 11 : 18 )
Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.      ( Qs. 11 : 83  )
Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. ( Qs. 30 :  9 ) .
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu ( kebaha-giaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan  di ( muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan  ( Qs. 28 : 77 )
Telah nampak  kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). ( Qs.   30 41 ).
…… janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya.        ( Qs. 7 : 85  ).
…… Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan ( Qs. 10 : 81 ) .
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. ( Qs. 7 : 56.  )
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat  zalim  kepada diri mereka sendiri. ( Qs.  10 : 44 )
Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik  ( syurga ). ( Qs.   53 : 31. )
Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik  pemberi rezki. ( Qs. 22 : 58 ). 
dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik  Pelindung dan sebaik- baik  Penolong. ( Qs. 22 : 78 - Qs. 8 : 40 )
………..  maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik , dan Dia adalah Pemberi rezki Yang Paling  Baik . ( Qs. 23 : 72 ).
Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. ( Qs. 40 : 64 ).
…………. dan Allah tidak menyukai kebinasaan ( QS. 2 : 205 ).
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan . ( Qs. 28 : 77 ).

Perhatikan ayat-ayat Al Qur’an yang terjemahannya dikutipkan di atas . Betapa Maha Baik-Nya Allah . Tetapi sifat Maha Baik-Nya ini tidak membatasi Allah Al Qur’an untuk memberi hukuman kepada manusia yang melakukan dosa , kezaliman , kerusakan dan kenegatifan lainnya . Bahkan menjadi sesuatu yang aneh jika Allah membiarkan manusia berbuat dosa hanya karena sifat Maha Baik-Nya . Allah Al Qur’an ( - istilahnya Eja Kalima - ) tidaklah sewenang-wenang dalam bertindak kepada hamba-Nya . Nyatalah pernyataan Eja Kalima tersebut adalah pernyataan yang tidak normal , menyalahi ALKITAB/BIBEL dan kejernihan logika yang waras .
Dan berkaitan dengan ayat Qs.  90 : 4 yang disinggung Eja Kalima , baiklah dikutipkan terjemahannya berikut :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah

Apakah Eja Kalima memahami maksud ayat ini ? Apakah dengan pernyataan ayat Qs. 90 : 4 ini dapat diartikan sebagai bukti dari “ KETIDAK-BAIKAN “ Allah Al Qur’an ? Jika menurut Eja Kalima memang demikianlah maksudnya , marilah kita lihat fakta mengenai MANUSIA KRISTEN saat ini . Apakah  semua orang Kristen sekarang menjalani kehidupan TANPA SUSAH PAYAH , sebagai bukti “KEBAIKAN “ Tuhan Alkitab  ( - istilahnya Eja Kalima - ) ? Mungkin tidak ada satupun MANUSIA KRISTEN yang tidak mengalami kehidupan yang susah payah . Hanya modelnya saja yang ber-beda . Bukankah MANUSIA KRISTEN sekarang bahkan sejak Kristen Awal telah menjalani KEHIDUPAN YANG SUSAH PAYAH DENGAN SEGALA PERSOALAN : sosial , ekonomi , politik , keamanan , kepercayaan , moral dan sebagainya ? Lalu di mana yang disebut dengan “ KEBAIKAN TUHAN ALKITAB “ tersebut dengan adanya fakta demikian ?  Sebaiknya , si Kristen jangan terlalu mengada-ada  . Bukankah dalam ALKITAB/BIBEL sendiri , TUHAN ALKITAB telah menetapkan SUSAH PAYAH BAGI UMMAT MANUSIA ? Bacalah ayat Kejad. 3 : 16, 17,19  berikut  :

Maka firman Tuhan kepada perempuan itu : “ Bahwa Aku akan MENAMBAHI SANGAT KESUSAHANMU pada masa engkau mengandung , maka DENGAN KESUSAHAN pun engkau akan beranak dan engkau akan takluk kepada lakimu dan ia pun akan memerintahkan dikau . (ayat 16 )
Lalu firman Allah kepada Adam : “ Bahwa sebab telah engkau mendengar akan kata binimu serta sudah makan buah pohon yang telah Kupesan kepadamu jangan engkau makan dia , maka TERKUTUKLAN BUMI itu KARENA SEBAB ENGKAU, maka DENGAN KESUSAHAN ENGKAU AKAN MAKAN HASILNYA SEUMUR HIDUP-  MU “.  ( ayat 17 )
Maka dengan BERPELUH MUKAMU engkau akan makan rezikimu sehingga engkau kembali pula kepada tanah , karena daripadanya engkau telah diambil : bahwa abulah adamu maka kepada abu pun engkau akan kembali juga .

Diharap Eja Kalima memperhatikan ayat Kejadian 3 : 17,19 ini untuk menilai apakah pernyataan apologinya yang mengandung klaim bahwa Tuhan Alkitab “ tidak bisa mengingkari Diri-Nya “ itu benar ataukah hanya sebuah kebohongan .  Begitu juga agar dapat dibaca oleh penganut Kristen lainnya , supaya jangan “ ber-bangga hati “ dengan klaim dusta Eja Kalima ini .
Apakah “ KEBAIKAN “ dari TUHAN ALKITAB ketika menetapkan seorang perempuan harus mengalami KESUSAHAN KETIKA MENGANDUNG EDAN BERANAK ? Apakah “ KEBAIKAN “ dari TUHAN ALKITAB ketika menyatakan BUMI SEBAGAI TERKUTUK padahal yang berbuat salah adalah Adam ? . Apakah  BUMI  yang menyuruh Adam memakan pohon pengetahuan itu sehingga HARUS TERKUTUK ? Dimanakah KEBAIKAN DAN KEADILAN TUHAN ALKITAB dalam hal ini ? Apakah dapat dikatakan bahwa Tuhan Alkitab “ tidak bisa mengingkari Diri-Nya “ ( - karena dibatasai oleh hakikat diri-Nya “ YANG MAHA BAIK “ - ) dengan menetapkan kehidupan susah payah bagi manusia , padahal dengan kriteria inilah justru Eja Kalima memberi penilaian bahwa Allah Al Qur’an itu “ bisa mengingkari Diri-Nya “ ? Sebaiknya , Eja Kalima ini tidak perlu mengeluarkan pernyataan apologi yang TIDAK BERMUTU SEPERTI ITU  jika ingin memperbandingkan antara ISLAM dengan KRISTEN ! Apakah Eja Kalima menginginkan bahwa manusia itu hanya hidup ongkang-ongkang menikmati segala sesuatu tanpa bekerja dan berjuang ?
Nyatalah dengan fakta ayat Kejadian 3 : 17,19 di atas yang ternyata TUHAN ALKITAB menetapkan keadaan SUSAH PAYAH pada manusia – yang dalam kriteria Eja Kalima sebagai “ BERTENTANGAN DENGAN HAKIKAT-NYA YANG MAHA BAIK “. Oleh karena itu pernyataan Eja Kalima :    Tuhan Alkitab bukanlah Tuhan yang dapat melakukan apa saja yang bertentang-an dengan hakikat-Nya Yang Maha Baik , Maha Kudus , yang Maha Benar . Tuhan tidak bisa mengingkari diri-Nya sendiri “ adalah pernyataan dusta yang tidak didasarkan pada ALKITAB/BIBEL tetapi  didasarkan  pada khayalan dogma Kristen yang dianutnya secara ngawur  .
Selanjutnya  Eja Kalima berkata : “ Tuhan Alkitab bukanlah Tuhan yang dapat melakukan apa saja yang bertentangan dengan hakikat-Nya Yang Maha Baik , Maha Kudus , yang Maha Benar . Tuhan tidak bisa mengingkari diri-Nya sendiri . Dia yang Maha Benar tidak berubah menjadi tidak benar dengan cara menipu-daya apapun alasannya ……… Karena alasan tertentu, Allah juga bisa menjuluki dirinya sebagai SEBESAR-BESAR/SEBAIK-BAIK PENIPU DAYA   ( Qs.   3 : 54 , 8 : 30 , baca bahasa dan istilah aslinya )  “ .
Eja Kalima berbicara tentang ALLAH AL QUR’AN  sebagai sebaik-baik PENIPU DAYA , dengan tujuan menunjukkan “ KETIDAK-BAIKAN “ dari Allah Al Qur’an dengan merujuk kepada ayat-ayat Qs. 3 : 54 dan Qs. 8 : 30 . Kita kutip terjemahan kedua ayat Al Qur’an tersebut sebagai berikut :

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.  ( Qs. 3 : 54 ).
 Dan ( ingatlah ), ketika orang-orang kafir ( Quraisy ) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. ( Qs. 8 : 30 )

Memperhatikan terjemahan ayat-ayat Al Qur’an yang ditunjuk Eja Kalima ini , betapa dustanya Eja Kalima ketika berkata : ” Karena alasan tertentu, Allah juga bisa menjuluki dirinya sebagai SEBESAR-BESAR/SEBAIK-BAIK PENIPU DAYA ( Qs. 3 : 54 , 8 : 30 , baca bahasa dan istilah aslinya ). Kedua ayat Al Qur’an tersebut menegaskan bahwa Allah : ” Dan Allah sebaik-baik PEMBALAS TIPU DAYA  ” dan ini telah ditegaskan pada kalimat ayat sebelumnya : ” ... dan Allah MENGGAGALKAN TIPU DAYA itu ” . Jadi , tidak ada kata-kata bahwa Allah adalah : ” SEBESAR-BESAR/SEBAIK-BAIK PENIPU DAYA ” seperti yang dikatakan penuh dusta dan kebohongan oleh Eja Kalima . Kalimat seperti itu adalah ciptaan Eja Kalima. Perhatikan! Kalimat ”SEBESAR-BESAR/SEBAIK-BAIK PENIPU DAYA ” yang dikatakan Eja Kalima tentu sangat berbeda dengan pernyataan ayat Al Qur’an yang ditunjuknya : ” Dan Allah sebaik-baik PEMBALAS TIPU DAYA ”. Memang demikianlah karakter PARA DAJJAL PENYESAT dari kalangan Kristen ketika menghadapi kebenaran ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw . Mereka tidak pernah ragu-ragu untuk mengubah makna ayat Al Qur’an , apalagi terhadap ayat-ayat Alkitab/Bibel mereka .  
Tentu Eja Kalima akan berkilah : ” baca bahasa dan istilah aslinya pada ayat   Qs. 3 : 54 dan Qs. 8 : 30 ”. Dalam ayat Qs. 3:54 dikatakan : ”wa makarullaahu” dan ” Wallaahu khairul maakirin ”. Sedangkan pada ayat Qs. 8 : 30 dikatakan : ” wa yamkurullaahu ” dan       Wallaahu khairul maakirin ”. Asal kata ”makarullaahu ” - ”maakirin ” dan ” yamkurullaahu ” adalah ” makara – yamkuru – makraan ” yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan  menipu ”. Tetapi ingat , ini makna terjemahan bahasa Indonesia , yang belum tentu menggambarkan makna sebenarnya yang diinginkan oleh kata ” makar ”. Untuk jelasnya , bagaimana kata ” makar ” itu harus diartikan dalam konteks kalimat , berikut dikutipkan terjemahan ayat Qs. 8 : 30  sebagai berikut :

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

Pada ayat Qs. 8 : 30 ini terungkap kata ” yamkuru bikal ladziy-na kafaruw ” yang jika diterjemahkan ” sedang berbuat makar kepadamu oleh orang kafir ”. Kata ” yam-kuru       (sedang berbuat makar) ini dihubungkan dengan bentuk tindakan yang berupa : ” MENANG-KAP DAN MEMENJARAKANMU ATAU MEMBUNUHMU ATAU MENGUSIRMU ” . Menjadi pertanyaan kepada Eja Kalima , apakah tindakan yang berupa ” MENANGKAP DAN MEMENJARAKANMU ATAU MEMBUNUHMU ATAU MENGUSIRMU ” ini dapat disebut sebagai : MENIPU DAYA atau TIPU MENIPU ? Jika Eja Kalima memaknakan seperti itu , tahulah kita betapa dungunya Eja Kalima tapi sok tahu tentang bahasa Arab . Oleh karena itu , kalimat ”  Wallaahu khairul maakirin ” lebih tepat diterjemah-kan dengan ”Dan Allah sebaik-baiknya pembalas makar”. Dikatakan : ”PEMBALAS MAKAR ” karena dikaitkan dengan ” makar ” yang direncanakan oleh orang-orang kafir yang berupa :        ” MENANGKAP DAN MEMENJARAKANMU ATAU MEMBUNUHMU ATAU MENGUSIRMU ” . Dan rencana makar orang kafir ini digagalkan oleh Allah. Demikian caranya jika hendak memahami makna ayat-ayat Al Qur’an , tidak sekedar melihat ” bahasa dan istilah aslinya pada ayat Qs. 3 : 54 dan Qs. 8 : 30  ”. Bahasa aslinya , jelas adalah kata ” MAKAR ” tetapi kata apa dalam bahasa Indonesia untuk menterjemahkan kata ” MAKAR ” ini ? Tidak ada yang tepat . Untuk itu diterjemahkan saja dengan ” MENIPU ” yang kemudian dalam kembangannya mempunyai konotasi negatif untuk Allah SWT sebagaimana yang telah ditunjukkan  oleh Eja Kalima dengan ” SEBAIK-BAIKNYA PENIPU DAYA ”. Dan hendaknya diketahui oleh Eja Kalima dan penganut Kristen lainnya bahwa pernyataan ayat Qs. 3 : 54 ini berkaitan dengan rencana dan upaya kaum Yahudi yang bekerja sama dengan pasukan Romawi hendak menangkap dan membunuh Nabi Isa Al Masih as.  Rencana tindakan mereka ini merupakan satu makar dan penentangan terhadap risalah dan kebenaran misi yang dibawa oleh Nabi Isa Al Masih as.  Mereka menyusun rencana yang matang sebagai bentuk tindakan untuk membunuh Yesus ( Nabi Isa Al Masih as ). Tetapi Allah SWT tidak akan membiarkan upaya makar rencana kaum Yahudi dan pasukan Romawi terlaksana. Upaya makar kaum Yahudi dan pasukan Romawi ini digagalkan oleh Allah SWT. Begitu pula dengan ayat Qs. 8 : 30 yang berbicara tentang rencana matang kaum kafir Quraisy sebagai upaya mereka yang hendak menangkap dan membunuh Nabi Muhammad SAW. Tetapi Allah SWT menggagalkan  makar dan rencana kaum kafir Quraisy ini . Dan kenyataannya  kaum kafir Quraisy gagal melaksanakan rencana makar  mereka. Dan Allah SWT menegaskan: Wallaahu khairul maakirin ”yang lebih tepat diterjemahkan dengan: Allah sebaik-baik Pembalas makar atau terjemahan dalam Al Qur’an Dan terjemahnya, Dep. Agama : ”Dan Allah sebaik-baik PEMBALAS TIPU DAYA  ”. Jelaslah betapa palsunya terjemahan yang diberikan Eja Kalima atas kata ” Wallaahu khairul maakirin ” dengan : ” Sebesar-besar/sebaik-baik Penipu Daya ”. Dari konteks kedua ayat Al Qur’an yang ditunjuk Eja Kalima ini , dapat dipahami maksud kata “ tipu daya “ sebagai terjemahan dari kata ” makar ” dimaksud dan bagaimana Allah menggagalkan tipu daya atau makar yang disusun orang-orang kafir kepada para Rasul Allah tersebut . Dan bagaimana gambaran Allah SWT membalas makar yang dilakukan orang-orang kafir diungkapkan pula oleh sejumlah ayat-ayat Al Qur’an , yaitu :

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar  yang besar  padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (  Qs. 14 : 46 )
Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. (  Qs. 16 : 26 )
Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar  (pula), sedang mereka tidak menyadari.
Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. (  Qs. 27 : 50, 51 )
maka apakah orang-orang yang membuat makar  yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, (Qs. 16 : 45 )

Kata ” makar ” dalam ayat-ayat Al Qur’an tidak bisa diartikan dengan ” menipu ” tetapi diartikan dengan tindakan kejahatan yang menentang risalah Tuhan yang dibawa para nabi/Rasul   Allah. Disarankan kepada Eja Kalima, jika membaca ayat-ayat Al Qur’an hendaklah melihatnya secara utuh, jangan hanya melihat satu potong ayat lalu dipahami menurut enaknya Eja Kalima .
Selanjutnya Eja Kalima berkata : “ Dan Allah ini dengan alasan tersendiri , diam-diam menyesatkan semua orang ketika Ia menggantikan Isa Al Masih yang hendak disalibkan itu dengan seorang ISA-ISA- an , yang tidak pernah diketahui identitasnya dan alasannya “. Pemahaman Eja Kalima terhadap kepercayaan Islam tentang tidak tersalibnya Yesus melainkan orang lain yang dikira Yesus merupakan bentuk penyesatan yang dilakukan Allah terhadap semua orang yang menyaksikan penyaliban itu sangat keliru. Itu adalah realisasi dari pernyataan Alkitab/Bibel sendiri. Analisis terhadap ayat-ayat Alkitab/Bibel menunjukkan bahwa peristiwa penyaliban memang terjadi. Tetapi yang tersalib adalah bukan Yesus melainkan orang lain yang dikira Yesus.  Kesimpulan ini diperoleh dengan menganalisis  ayat  MATIUS 27 : 15 –26 ( band. MARKUS  15 : 6 –15 ; LUKAS 23 : 17 – 25 ; YAHYA  18 : 39 -40 ) . Dan orang lain yang disalib itu adalah YUDAS ISKARIOT. Apa alasannya sehingga Yudas Iskariot yang disalib ? Alkitab/Bibel menceritakan rencana/makar Yudas Iskariot dengan para Imam dan para tetua Yahudi untuk menangkap dan membunuh Yesus .  Tetapi akhirnya Yudas Iskariot-lah yang ditangkap dan disalib. Ini merupakan pemenuhan nubuatan yang disebutkan Alkitab/Bibel sendiri yaitu  Ayat Mazmur 7 : 16-17  :

Ia membuat lobang dan menggalinya tetapi ia sendiri yang jatuh ke dalam lobang yang dibuatnya sendiri . Kelaliman yang dilakukannya , kembali menimpa kepalanya dan kekerasan pun turun menimpa batu kepalanya .

Jadi sangatlah keliru Eja Kalima dengan pernyataannya : “ Dan Allah ini dengan alasan tersendiri , diam-diam menyesatkan semua orang ketika Ia menggantikan Isa Al Masih yang hendak disalibkan itu dengan seorang ISA-ISA-an, yang tidak pernah diketahui identitasnya dan alasannya “. Sebaiknya Eja Kalima mempelajari dulu Alkitab/Bibel-nya secara kristis dengan menjauhkan dulu balutan-balutan dogma Kristen yang ada dalam dirinya. Jelas sekali, tidak ada penyesatan yang dilakukan Allah dengan menyerupakan orang lain sebagai Yesus sehingga orang lain itulah yang tersalib melainkan hal itu dilakukan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa sebagai hukuman kepada kaum Yahudi atas rencana jahat mereka yang hendak membunuh Yesus dan juga sebagai hukuman kepada mereka yang mempercayai Yesus sebagai Tuhan sehingga dengan peristiwa penyaliban itu mereka mau berfikir , apakah mungkin Yesus itu Tuhan ketika bisa disalib dan mati ? Tetapi sayang, kekafiran telah menyelimuti sebagian besar manusia pada waktu dan masih berlangsung sampai sekarang, dengan mengambil “ penyaliban Yesus “ sebagai bentuk  penebusan dosa untuk keselamatan manusia.  Padahal ayat-ayat Alkitab tidak mengajarkan dogma ” PENEBUSAN DOSA ”. Itu hanya ciptaan orang-orang Kristen pengikut Paulus ( Gereja Pauline ) dan bukan ajaran Yesus. Misi Yesus yang hanya untuk kaum Yahudi telah membatalkan dogma PENEBUSAN DOSA tersebut .


[1] )  Perhatikan ayat Keluaran 33 : 19  : “ Aku akan menyebut nama TUHAN  …….“ . Siapakah yang dimaksud dengan kata ganti orang pertama tunggal: “AKU“ dalam kalimat ini ?  Jika disimak rangkaian ayat, ternyata pada awal ayat dikatakan : “ Tapi firman Tuhan …Dst “, tidak diragukan lagi bahwa yang ditunjuk dengan “ AKU “, tidak lain adalah TUHAN. Jika demikian, TUHAN MANA LAGI YANG AKAN DISEBUT NAMANYA oleh Tuhan yang berfirman tersebut? Terlihat betapa ayat Bibel penuh dengan kalimat yang aneh-aneh .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar